Sep 12, 2012

Menuju Jejak

Hari-hariku sedang tak stabil, seolah tiap hari aku melakukan segalanya sambil meniti tali tambang di atas ketinggian ribuan kaki.

Perasaanku seperti permukaan air yang segera beriak dengan sentuhan jari.


Siapa yang dapat begitu saja melupakan rasa sakit? Dan siapa yang tak dapat menahan haru ketika mendengar bait demi bait lagu yang meluruhkan luka?

Irama melakukan putaran bertempo adagio, memberi kesempatan bagi otak dan mata untuk berkolaborasi dalam sebuah proyeksi hati.

Tenggorokanku kembali tercekat oleh kepedihan. Butir demi butir air kembali terjatuh dari pelupuk mataku yang mendung.

Aku kembali membuang kelebihan air mata agar bebanku menjadi ringan. Getaran tali terasa semakin perlahan.

Ada kalanya aku menikmati angin segar yang berhembus di wajahku, namun genangan air mata yang licin kadang membuatku terpeleset dan tergantung di atas tali.

Sang irama mendekati puncak tariannya. Tanganku perlahan menggapai.

Butir-butir air mata yang tersisa berjatuhan dari tali seraya kakiku melangkah. Ada yang memberitahuku, hanya dengan melangkah maju, aku akan mendapat kembali jejakku.

Terima kasih sudah sabar menunggu, Bumi. Tak lama lagi, aku akan melanjutkan jejak-jejakku yang sempat terhenti.

Sep 9, 2012

Curhat Kecil

Kadang, ketika lidah gue terlalu kelu untuk bercerita, atau gue takut kata-kata gue berhenti mengalir karena emosi, gue lebih memilih menulis. Barisan huruf yang tetap diam di sana, teratur, tapi menjelaskan segalanya tentang bagaimana perasaan gue sesungguhnya. Tentang apapun.

Seperti sekarang, saat pikiran gue begitu berkecamuk dan berakibat pada perasaan senang yang sedikit berlebihan namun di saat yang sama, gue yakin bisa menangis terisak-isak. Entahlah, gue belum pernah benar-benar memeriksa kejiwaan gue.

Apakah gue sakit jiwa? Tentu saja tidak. Mungkin gue hanya perlu 'diselami', seperti Robin Williams yang dengan lihai membuat Matt Damon membuka diri dalam film Good Will Hunting. Gue ingat suka menyelam ke dasar kolam renang waktu kecil, dan mungkin itu alasannya mengapa gue tergolong sulit untuk dikenal lebih jauh. Alasan gue susah membuka diri? Mungkin karena dunia terlalu kejam dan cenderung mematahkan semangat orang-orang seperti gue, yang selalu terlihat cheerful. Terlihat.

Sepertinya gue masih harus lebih banyak 'menyelami' diri gue sendiri sebelum 'menyelami' orang-orang di luar sana, yang akan gue temui, atau sudah gue temui namun belum benar-benar gue 'selami'. Setiap orang luar biasa, tapi nggak semua orang tahu dan menyadarinya.