Perasaanku seperti permukaan air yang segera beriak dengan sentuhan jari.
Siapa yang dapat begitu saja melupakan rasa sakit? Dan siapa yang tak dapat menahan haru ketika mendengar bait demi bait lagu yang meluruhkan luka?
Irama melakukan putaran bertempo adagio, memberi kesempatan bagi otak dan mata untuk berkolaborasi dalam sebuah proyeksi hati.
Tenggorokanku kembali tercekat oleh kepedihan. Butir demi butir air kembali terjatuh dari pelupuk mataku yang mendung.
Aku kembali membuang kelebihan air mata agar bebanku menjadi ringan. Getaran tali terasa semakin perlahan.
Aku kembali membuang kelebihan air mata agar bebanku menjadi ringan. Getaran tali terasa semakin perlahan.
Ada kalanya aku menikmati angin segar yang berhembus di wajahku, namun genangan air mata yang licin kadang membuatku terpeleset dan tergantung di atas tali.
Sang irama mendekati puncak tariannya. Tanganku perlahan menggapai.
Butir-butir air mata yang tersisa berjatuhan dari tali seraya kakiku melangkah. Ada yang memberitahuku, hanya dengan melangkah maju, aku akan mendapat kembali jejakku.
Terima kasih sudah sabar menunggu, Bumi. Tak lama lagi, aku akan melanjutkan jejak-jejakku yang sempat terhenti.
Butir-butir air mata yang tersisa berjatuhan dari tali seraya kakiku melangkah. Ada yang memberitahuku, hanya dengan melangkah maju, aku akan mendapat kembali jejakku.
Terima kasih sudah sabar menunggu, Bumi. Tak lama lagi, aku akan melanjutkan jejak-jejakku yang sempat terhenti.