Jun 8, 2012

Surat Kecil Untukmu

Kepada kamu yang baru saja mengalami mimpi buruk,
Tenanglah, mungkin Cupid sedang iseng, dan kamu sedang rindu padaku, sehingga kamu menjadi begitu khawatir karena mimpi itu. Jangan tidur larut malam lagi ya.

Kamu tahu? Ketika kamu tadi mengatakan, "Aku mimpi ngeliat kamu jalan sama orang lain," dan menceritakan sisanya sambil menggenggam tanganku seolah kamu tak ingin berpisah denganku malam itu, aku benar-benar tak bisa menahan perasaanku. Ketakutanmu terhadap kehilanganku membuatku begitu tersentuh. Belum lagi ketika kamu bersandar di bahuku dan aku membelai lembut kepalamu. Rasanya aku ingin menghentikan waktu, memeluk dan menenangkanmu hingga rasa khawatirmu lenyap.

Aku bisa merasakan buncahan kasih sayang di hatiku, menunggu untuk kusampaikan padamu dengan caraku.

Kekhawatiranmu membuatku tersadar, bahwa hubungan kita masih akan menempuh jalan yang sangat panjang, dan tidak selamanya jalan itu akan selalu mulus. Untuk itu, aku tak akan lelah untuk mengingatkanmu bahwa aku sayang kamu.

Selelah apapun kamu, sesibuk apapun kamu, sepending apapun bbm ke kamu, semenyebalkan apapun semester-semester berikutnya yang akan kita lalui, selalu ingat hal ini: aku sayang kamu.

P.S.: Ucapkan ketiga kata itu sambil berbisik, jangan lupa tersenyum, and seize the day! :)

Jun 4, 2012

19

Hari keempat di bulan keenam. Tepat 19 tahun lalu.
Aku membayangkan wajah bahagia kedua orangtuaku, membayangkan diriku sendiri yang masih sangat kecil dan belum dapat melihat indahnya dunia. Tangisanku yang memecah keheningan entah tiap berapa jam sekali pastilah membuat Ibuku lelah, namun dengan sabar beliau menenangkanku hingga aku kembali tertidur, tanpa pernah mengingat mengapa aku menangis.

Ah, aku sangat merindukan kedua orangtuaku.


Hari keempat di bulan keenam, 19 tahun kemudian.
Aku berada ratusan kilometer dari rumah, berusaha mencari tahu untuk apa aku berada di dunia ini dengan menyerap ilmu yang diberikan oleh dosen-dosenku, dan mempelajari kemampuan bertahan hidup di tengah kehidupan kota besar yang keras. Sedikit demi sedikit, mata dan pikiranku semakin terbuka.

Satu hal yang aku pahami: Dunia memang indah, namun manusia yang membuatnya terlihat jelek.

Aku memang bukan malaikat. Kelemahan-kelemahanku masih membuat orang di sekitarku mengerutkan alis, dan aku tak ingin membuat alis mereka menyatu karena aku terus-menerus bertingkah seperti orang lemah. Namun aku juga tak ingin menjadi orang yang terlalu kuat dan berubah menjadi penindas.

Aku ingin tetap menjadi diriku, yang masih percaya bahwa malaikat penjaga dan parallel universe itu ada.

Selamat menjalani tahun ke 19-mu, diriku.