Apr 30, 2012

Extraordinary Love

Semua berawal dari RT-an tweet tentang The Avengers yang berujung pada sebuah percakapan kecil, dan akhirnya kamu menekan tombol follow di akunku. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan baru muncul di kotak DM-ku, tepat ketika aku baru saja memikirkan hal yang kamu tulis di DM pertamamu.

Percakapan demi percakapan pun mulai mengalir. Setiap hari kita mengobrol hingga aku tertidur. Lama kelamaan, kita bertatap muka lewat skype. Sudah tak terhitung berapa banyak hal yang kita obrolkan, seolah-olah kita telah saling mengenal selama bertahun-tahun, bukannya 3 hari.

Entah bagaimana mulainya, namun semakin lama, hatiku tergelitik oleh sebuah perasaan lain. Setiap pagi, aku selalu merasa lebih bersemangat ketika kamu menyapaku terlebih dulu, mengirimiku e-mail, dan membuatku tersipu ketika membaca timeline-mu.

Tiba-tiba saja, aku sudah jatuh cinta lagi, kali ini dengan cara yang tak biasa.


Apr 17, 2012

'Merapikan Kertas-Kertas'

Banyak sekali yang ingin kulakukan. Entah keinginan-keinginan yang sudah lama kuinginkan ketika aku masih penuh dengan ingin, atau keinginan-keinginan yang muncul karena sesuatu yang benar-benar mempengaruhi hatiku yang masih cukup mudah terbawa arus ini.

Dengan sifatku yang tertarik akan banyak hal-hal baru, tentunya aku akan banyak berkeinginan ini-itu. Namun semuanya masih sebatas ingin. Sisi kekanakanku yang masih ingin bebas dari segala tanggung jawab belum bisa kutaklukkan untuk melaksanakan keinginan-keinginanku itu.

Benar, aku belum berhasil mengalahkan diriku sendiri.

Keinginan yang masih sebatas ingin adalah masalah terbesarku. Tumpukan-tumpukan keinginan kian menggunung menjadi seperti tumpukan kertas di sudut otakku yang seharusnya kugunakan untuk menyerap berbagai teori yang selama ini sudah diberikan dosen-dosenku dengan susah payah. Aku masih terlalu malas (atau dengan pembenaranku selama ini, 'sibuk') dengan hal-hal lain hingga aku lupa 'merapikan' kertas-kertas itu.

Mengapa kertas-kertas? Karena selama kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, kertas adalah barang yang wajib untuk dipegang, terutama ketika ujian menjelang. Rasa-rasanya aku ingin membeli komputer tablet sehingga aku tidak perlu lagi menghabiskan hasil olahan pohon yang semakin sedikit itu. Ha! Satu lagi keinginan yang terucap (atau dalam kasus ini, tertulis).

Dengan waktu yang semakin sempit, aku harus cepat merapikan kertas-kertas yang bertumpuk ini segera, dan menemukan satu kertas yang berisikan keinginan terbesarku, dan meletakkannya 5 cm di depan mataku.

Apr 13, 2012

Konspirasi?

Sepertinya Tuhan dan Cupid sedang berdiskusi seru di surga. Mereka memutuskan untuk sedikit membuka pintu duniaku agar aku bisa keluar dan bertemu dengan pribadi-pribadi baru.

Tiba-tiba saja, aku sudah bertemu banyak cowok-cowok hebat.

Setelah begitu lamanya aku 'salah jalan', dengan mendekati cowok yang kusukai lebih dulu, akhirnya aku memutuskan untuk menahan diri dan menganggap bahwa suatu saat, ketika jodohku sudah capek bersembunyi, ia akan keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiriku secara tiba-tiba namun pada waktu yang tepat.

Belakangan ini, keputusanku seolah hendak digoyahkan. Pertama, cowok yang sangat aktif di kegiatan rohani. Kedua, cowok berhati tulus. Ketiga, cowok yang (hampir) mapan. Keempat, cowok yang mempelajari budaya Indonesia di negara tempatnya tinggal.

Dengan situasiku yang sudah cukup lama menahan rindu untuk kembali merasa bangga karena berhasil menarik perhatian lawan jenisku, tentu aku harus lebih menahan diriku lagi agar tak bertindak gegabah, seperti yang sudah dua kali kulakukan. Tidak, tidak, aku harus fokus pada tujuanku sendiri. Jika suatu saat memang salah satu dari mereka itu jodohku, aku yakin mereka bisa menemukan jalannya sendiri menuju bagian hatiku yang terdalam.

Aku benar-benar egois ya?

Namun, bila tidak, toh Tuhan dan Cupid sudah sangat banyak mewarnai hidupku dengan pribadi-pribadi baru. Pribadi-pribadi baru yang hebat setiap harinya akan semakin memacuku untuk menemukan satu tujuan di dalam hidupku, yang sudah terlalu sering terucap, namun belum pernah menggalinya lebih dalam.

Untuk sementara, urusan hati ini kuletakkan di atas meja rapat, sementara aku menenggelamkan diri dalam kompetisi akademik. Biar Tuhan dan Cupid yang mengurusnya. Yang harus kulakukan lebih dulu, akan kulakukan yang terbaik.

Apr 8, 2012

Menulikan Hati

Aku termenung, memikirkan kata-kata yang masih berputar-putar di kepalaku seperti gasing. Lagu berirama lambat yang kuputar berulang-ulang menambah kebisuanku. Duniaku diam, meski dunia di luar sana terus berjalan.

Suara tawa samar-samar di luar kamarku seolah mengejekku. Aku tak menyalahkan mereka yang sedang melanjutkan hidupnya dengan penuh kebahagiaan, sangat berlainan denganku yang berusaha untuk tidak bertindak bodoh karena otakku yang mulai kacau oleh tekanan-tekanan yang membuatku nyaris susah untuk bernapas.

Selanjutnya, yang kutahu, aku sudah menjatuhkan sebagian besar barang-barang di meja belajarku di lantai kamar, dengan rasa asin yang membanjiri sudut mulut dan lidahku. Aku begitu marah, namun aku tak ingin menyakiti perasaan orang-orang yang sedang berbahagia menjalani hidupnya di luar sana, sehingga aku lebih memilih untuk menyakiti perasaanku sendiri. Rasanya lebih mudah untuk melakukan hal itu dibandingkan aku harus menerima tatapan terluka dari teman-temanku ketika aku mulai bersikap emosional dan semua pilihan kataku sangat intimidatif bagi mereka.

Untuk itulah, aku menyakiti hatiku sekali lagi, berharap bisa menulikannya dari kenyataan yang akan lebih melukainya lagi. Lebih baik aku menyakitinya lebih dulu daripada orang lain menyakitinya lebih dalam lagi.

Aku mungkin tidak tuli, tapi aku ingin menulikan hatiku dari kenyataan.