Nov 26, 2012

Persembunyian

Kita semua adalah tukang bangunan dan tukang penghancur. Kita mampu membangun tembok pertahanan yang tebal dan kuat. Tak ada seorangpun yang sanggup menghancurkannya, kecuali kita sendiri. Atau orang itu memang ahli dalam menghancurkan tembok yang kita buat.

Aku bersembunyi di balik tembok yang telah kubangun selama bertahun-tahun. Batu demi batu, aku menciptakan persembunyian ini. Aku selalu bersembunyi di sini ketika aku merasa tak ada lagi tempat bersembunyi bagiku.

Kupikir segalanya sudah aman. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara hantaman palu yang memekakkan telinga. Aku panik. Persembunyianku telah terbongkar.

Aku tak mampu memanjat keluar dari sana. Tembok yang kubangun telah terlalu tinggi untuk kupanjat, dan bila aku mencoba, aku bisa mati terjatuh dari ketinggian yang tak terhitung lagi.

Suara hantaman terdengar semakin keras, dan ketika batu terakhir lepas dan ada lubang besar menganga di persembunyianku, aku hanya bisa berdiri mematung. Bayangan orang yang menghancurkan persembunyianku tampak samar di belakang cahaya yang menyilaukan.

Tapi aku tak perlu bertanya untuk tahu.

Kamu. Orang yang tak seharusnya kuberitahu tentang persembunyian ini. Ketika aku menghilang dari hadapanmu, kamu tahu di mana harus mencariku, dan membawaku pergi. Mungkin aku harus mencari tempat lain untuk bersembunyi, entah kapan.

Nov 17, 2012

(Terlihat) Sendiri

Aku berteman dengan bayanganku. Kami berbincang tiap hari, mendiskusikan apa saja. Masa lalu, masa kini, masa depan, kesempatan yang terbuang, kenangan yang tersimpan, hal-hal remeh yang tak akan mampu dimengerti orang-orang dewasa.

Bayangan tak menyukai masa lalu, karena ia sering disalahkan orang-orang karena bayangan mereka adalah masa lalu, bukan bayangan mereka sendiri. Ia lebih suka diajak bicara--mungkin berfilsafat--tentang mengapa ia ada, mengapa ia tak dapat ditangkap, dan mengapa ia gelap.

Oh, kini ia menatapku kesal. Tampaknya aku menyinggungnya, meski aku tak bohong dengan mengatakan bahwa ia gelap.

Ups.

Baiklah, baiklah. Aku tak ingin membuatnya marah. Bisa-bisa aku kehilangan tempat bersembunyi. Siapa yang tak ingin bersembunyi sesekali untuk memperkeras volume suara hati?

Jadi, apakah aku benar-benar sendiri?

Nov 5, 2012

Kekuatan Kecil Yang Besar

Ada sebuah kekuatan yang memastikan dunia tetap berjalan seperti saat ini.
Jika yang kau maksud kekuatan ilahi, pikir lagi.

Menguasai dunia dimulai dari menguasai pikiran orang-orang di dalamnya.

Oct 22, 2012

Cecaran Pikiran #1

Siapa suruh lo bertindak bodoh? Siapa suruh lo nggak berpikir lebih panjang?

Sekarang nyesel? Siapa lagi yang mau lo salahin? Diri lo? Nggak kasihan sama dia?

Kali ini, kebodohan lo udah melewati batas. Nggak seharusnya lo ngebuang kesempatan itu cuma gara-gara keteledoran lo. Kalo emang lo nggak tau, jangan gengsi. Jangan nganggep diri lo tau segalanya. Jangan malu dibilang bodoh. Mending malu sekarang daripada malu karena ketahuan pura-pura tau.

Lo itu masih terlalu cuek terhadap hal-hal penting dan malah mentingin hal-hal nggak penting? Lo taunya ngehindar ketika masalah dateng, dan ngarepin orang-orang nggak tau. Lo itu masih terlalu pengecut. Lo itu pinter, tapi masih bodoh. Lo masih belom punya karakter. Pribadi lo masih lemah. Pikiran lo masih kurang dalam. Lo sendiri masih kurang sigap dalam menghadapi masalah. Entah apa yang terjadi sama diri lo.

Gue tau kalo lo itu gue, dan gue nggak mau kita terus-terusan berantem karena sifat yang saling berlawanan. Makanya gue ngerasin lo supaya lo itu lebih berani. Mana lo yang percaya diri? Mana lo yang nggak pernah takut sama apa yang orang lain bilang? Mana lo yang cerdik? Mana lo yang dulu?

Gue harap sebelum tahun ini berakhir lo bisa sedikit lebih pintar daripada sekarang. Lo boleh muda, tapi apa lo mau terus-terusan dianggap remeh karena itu? Gimana lo mau dikenal sama dunia kalo lo sendiri masih belom bisa ngenalin diri lo sendiri dan ngembangin sisi-sisi positif yang lo punya?

Lo harus bisa nemuin jati diri lo sebelum lo meninggalkan usia belasan, dan itu nggak lama lagi. Bisa lo ngelakuin itu? Bisa lo nentuin target dan mastiin itu tercapai? Apa rencana lo selanjutnya? Apa yang mau lo lakuin di dunia bobrok ini?

Bahkan gue lebih pinter mencecar lo dibandingkan lo mencecar narasumber. Lo takut kena masalah? Buat apa lo hidup kalo lo nggak mau kena masalah?

Lo nggak boleh gini terus, Deb. Lo harus berubah. Nggak ada waktu lagi. Sebelum segalanya terlambat dan tau-tau lo dihadapkan sama satu masalah yang menuntut lo bertanggung jawab atas pilihan lo, lebih baik lo mulai menentukan sikap mulai sekarang. Inget, nggak punya sikap itu juga sikap. Nothing is something.

Maafin diri lo. Buang semua penyesalan, dan berubah. Belajar dari kesalahan lo. Jangan pernah ngandelin kekuatan lo sendiri. Gue yakin lo pasti bisa nemuin karakter lo sendiri, identitas lo, jati diri lo, substansi keberadaan lo di dunia. Gue nggak bakal berhenti mencecar lo sebelum lo menemukan permata di dalam diri lo. Lo butuh pemicu untuk mengeluarkan segala bakat yang udah hampir membusuk karena lo pendam terus-menerus. Siapa lagi yang bisa mencecar diri lo kalo bukan gue?

Oct 21, 2012

Kontak Ponsel dan Satu Nama


Aku menyusuri setiap nama di kontak ponselku, mencoba merapikan setiap nama dengan nama sebenarnya, bukan label yang kubuat agar bisa membedakan mereka dengan kontak lain yang memiliki nama sama. Fungsi kolom perusahaan kumanfaatkan semaksimal mungkin untuk merapikan setiap kontak. Menghapus kontak yang tidak lagi menghubungiku lebih karena nomor ponselku yang telah berubah, dan mengira-ngira haruskah aku menanyakan kembali nomor ponsel kontak yang cukup penting.


Sampai akhirnya, pandanganku terpaku pada satu nama di kontak ponselku.

Satu nama. Sebuah nomor ponsel yang sangat mudah diingat bertahun-tahun lalu. Hari itu. Tahun itu.

Hatiku kembali mencelos. Dunia sekelilingku tiba-tiba mengabur dengan kenangan-kenangan yang berputar sangat cepat dalam pikiranku. Aku sempat merasa bahwa aku akan terjatuh, namun kesadaranku kembali, dan aku bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Dan 'bersikap seolah tak terjadi apa-apa' adalah salah satu keahlianku. Dunia kembali berjalan seperti biasa.

Oct 4, 2012

Menumbuhkan Sayap

Aku adalah calon kupu-kupu. Saat ini, aku sedang berada di dalam sebuah selubung putih. Aku tidak makan apapun, tidak melihat cahaya matahari, tidak pergi bermain bersama yang lainnya. Aku berada dalam dunia kecilku sendiri.

Menumbuhkan sayap itu tidak mudah, kau tahu. Bayangkan bila tiba-tiba sepasang sayap yang keras keluar dari balik punggungmu yang kenyal, bukankah itu menyakitkan? Tidakkah kau ingin tetap bergerak lambat dan menggigit dedaunan, tanpa harus terperangkap dalam serat-serat kasar dan menunggu dalam diam?

Tapi bila aku tidak menumbuhkan sayap, maka aku akan tetap menjadi sang ulat kecil, yang bergerak lambat ketika teman-temanku telah mengelilingi separo dunia dengan sayap mereka yang lebar. Untuk itulah aku menarik diri, memintal serat untuk membangun selubungku, dan berdiam diri sementara.

Dan ketika saatnya tiba, aku akan bisa mengembangkan sayapku sendiri, mengepakkannya, dan menjelajahi dunia.

Sep 12, 2012

Menuju Jejak

Hari-hariku sedang tak stabil, seolah tiap hari aku melakukan segalanya sambil meniti tali tambang di atas ketinggian ribuan kaki.

Perasaanku seperti permukaan air yang segera beriak dengan sentuhan jari.


Siapa yang dapat begitu saja melupakan rasa sakit? Dan siapa yang tak dapat menahan haru ketika mendengar bait demi bait lagu yang meluruhkan luka?

Irama melakukan putaran bertempo adagio, memberi kesempatan bagi otak dan mata untuk berkolaborasi dalam sebuah proyeksi hati.

Tenggorokanku kembali tercekat oleh kepedihan. Butir demi butir air kembali terjatuh dari pelupuk mataku yang mendung.

Aku kembali membuang kelebihan air mata agar bebanku menjadi ringan. Getaran tali terasa semakin perlahan.

Ada kalanya aku menikmati angin segar yang berhembus di wajahku, namun genangan air mata yang licin kadang membuatku terpeleset dan tergantung di atas tali.

Sang irama mendekati puncak tariannya. Tanganku perlahan menggapai.

Butir-butir air mata yang tersisa berjatuhan dari tali seraya kakiku melangkah. Ada yang memberitahuku, hanya dengan melangkah maju, aku akan mendapat kembali jejakku.

Terima kasih sudah sabar menunggu, Bumi. Tak lama lagi, aku akan melanjutkan jejak-jejakku yang sempat terhenti.

Sep 9, 2012

Curhat Kecil

Kadang, ketika lidah gue terlalu kelu untuk bercerita, atau gue takut kata-kata gue berhenti mengalir karena emosi, gue lebih memilih menulis. Barisan huruf yang tetap diam di sana, teratur, tapi menjelaskan segalanya tentang bagaimana perasaan gue sesungguhnya. Tentang apapun.

Seperti sekarang, saat pikiran gue begitu berkecamuk dan berakibat pada perasaan senang yang sedikit berlebihan namun di saat yang sama, gue yakin bisa menangis terisak-isak. Entahlah, gue belum pernah benar-benar memeriksa kejiwaan gue.

Apakah gue sakit jiwa? Tentu saja tidak. Mungkin gue hanya perlu 'diselami', seperti Robin Williams yang dengan lihai membuat Matt Damon membuka diri dalam film Good Will Hunting. Gue ingat suka menyelam ke dasar kolam renang waktu kecil, dan mungkin itu alasannya mengapa gue tergolong sulit untuk dikenal lebih jauh. Alasan gue susah membuka diri? Mungkin karena dunia terlalu kejam dan cenderung mematahkan semangat orang-orang seperti gue, yang selalu terlihat cheerful. Terlihat.

Sepertinya gue masih harus lebih banyak 'menyelami' diri gue sendiri sebelum 'menyelami' orang-orang di luar sana, yang akan gue temui, atau sudah gue temui namun belum benar-benar gue 'selami'. Setiap orang luar biasa, tapi nggak semua orang tahu dan menyadarinya.

Aug 11, 2012

Kembali

Besok adalah hari Minggu keempatku di rumah. Harus kuakui, waktu berjalan sangat cepat ketika liburan.
Aku sangat menikmati liburanku. Kembali menjadi seorang anak adalah keinginan yang teramat besar ketika aku berada di perantauan. Aku mengerjakan segala pekerjaan yang sudah lama tak kulakukan--membersihkan rumah, menyetir, memasak, menyetrika, mengurus tanaman, mencuci mobil, bersepeda, dan baru-baru ini aku belajar mengendarai motor (meski aku akan tetap memilih naik mobil). Setelah mengerjakan segala kewajibanku, Ibuku selalu memanjakan lidahku dengan berbagai masakan rumah yang selalu menjadi kekuatan sekaligus bukti cinta terbesar seorang ibu.
Mungkin postingan kali ini terlihat sederhana, namun aku bersyukur karena akhirnya dapat meluangkan waktu untuk menulis secara sederhana setelah banyak menghabiskan waktu liburanku dengan…meliburkan diri. Hahaha!

Jun 8, 2012

Surat Kecil Untukmu

Kepada kamu yang baru saja mengalami mimpi buruk,
Tenanglah, mungkin Cupid sedang iseng, dan kamu sedang rindu padaku, sehingga kamu menjadi begitu khawatir karena mimpi itu. Jangan tidur larut malam lagi ya.

Kamu tahu? Ketika kamu tadi mengatakan, "Aku mimpi ngeliat kamu jalan sama orang lain," dan menceritakan sisanya sambil menggenggam tanganku seolah kamu tak ingin berpisah denganku malam itu, aku benar-benar tak bisa menahan perasaanku. Ketakutanmu terhadap kehilanganku membuatku begitu tersentuh. Belum lagi ketika kamu bersandar di bahuku dan aku membelai lembut kepalamu. Rasanya aku ingin menghentikan waktu, memeluk dan menenangkanmu hingga rasa khawatirmu lenyap.

Aku bisa merasakan buncahan kasih sayang di hatiku, menunggu untuk kusampaikan padamu dengan caraku.

Kekhawatiranmu membuatku tersadar, bahwa hubungan kita masih akan menempuh jalan yang sangat panjang, dan tidak selamanya jalan itu akan selalu mulus. Untuk itu, aku tak akan lelah untuk mengingatkanmu bahwa aku sayang kamu.

Selelah apapun kamu, sesibuk apapun kamu, sepending apapun bbm ke kamu, semenyebalkan apapun semester-semester berikutnya yang akan kita lalui, selalu ingat hal ini: aku sayang kamu.

P.S.: Ucapkan ketiga kata itu sambil berbisik, jangan lupa tersenyum, and seize the day! :)

Jun 4, 2012

19

Hari keempat di bulan keenam. Tepat 19 tahun lalu.
Aku membayangkan wajah bahagia kedua orangtuaku, membayangkan diriku sendiri yang masih sangat kecil dan belum dapat melihat indahnya dunia. Tangisanku yang memecah keheningan entah tiap berapa jam sekali pastilah membuat Ibuku lelah, namun dengan sabar beliau menenangkanku hingga aku kembali tertidur, tanpa pernah mengingat mengapa aku menangis.

Ah, aku sangat merindukan kedua orangtuaku.


Hari keempat di bulan keenam, 19 tahun kemudian.
Aku berada ratusan kilometer dari rumah, berusaha mencari tahu untuk apa aku berada di dunia ini dengan menyerap ilmu yang diberikan oleh dosen-dosenku, dan mempelajari kemampuan bertahan hidup di tengah kehidupan kota besar yang keras. Sedikit demi sedikit, mata dan pikiranku semakin terbuka.

Satu hal yang aku pahami: Dunia memang indah, namun manusia yang membuatnya terlihat jelek.

Aku memang bukan malaikat. Kelemahan-kelemahanku masih membuat orang di sekitarku mengerutkan alis, dan aku tak ingin membuat alis mereka menyatu karena aku terus-menerus bertingkah seperti orang lemah. Namun aku juga tak ingin menjadi orang yang terlalu kuat dan berubah menjadi penindas.

Aku ingin tetap menjadi diriku, yang masih percaya bahwa malaikat penjaga dan parallel universe itu ada.

Selamat menjalani tahun ke 19-mu, diriku.

May 20, 2012

Mengikuti Prosedur

Jadian. Sebuah kata modern yang biasanya diawali dengan pertanyaan "Maukah kamu menjadi pacarku?", dan dijawab dengan anggukan kecil atau "Iya".
Baru tiga hari lalu, aku memperhatikan timeline dan melihat salah seorang seleb di twitter yang memberi pendapatnya tentang sebuah hubungan yang diawali dengan pertanyaan seperti di atas. Dia nggak setuju dengan sebuah hubungan yang diawali dengan 'penembakan'. Aku sempat tersenyum kecil melihat tweet-tweet-nya, teringat hubunganku sekarang yang diawali dengan 'penembakan' namun dengan cara yang tidak biasa.

Setelah semua petualangan yang kami alami selama dua minggu, tiba-tiba sebuah pertanyaan tercetus begitu saja, "Kapan mau ngomong [soal jadian]?" Jadilah kami menunggu hari yang tepat untuk ngobrol berdua, namun di hari kita jadian, nggak ada sesuatu yang penting yang diobrolin. Kami sibuk bercanda dan tertawa mendengar lelucon masing-masing hingga pertanyaan 'sakral' itu belum juga terucap. Sampai pada akhirnya kita saling mendekat, lalu dia membisikkan pertanyaan itu sambil menatapku lekat-lekat, tanpa berkedip. Kalian tentu sudah tahu cerita selanjutnya, aku sudah menceritakan hal itu seminggu lalu.

Hingga sekarang, aku selalu tersenyum-senyum ketika mengingat proses menuju status 'in a relationship', kalau kata sebuah social media. Proses pendekatan kami sangat penuh kejutan dengan banyaknya hal-hal yang sama-sama kami sukai sehingga membuat kami cepat akrab. Kalimat klise, "Meski aku baru kenal kamu, tapi seperti udah lama kenal sama kamu" itu benar-benar terjadi. Tanpa disadari, dan tanpa alasan yang benar-benar jelas, hati kami sudah terpaut satu sama lain.

Tapi, sekali lagi, kami hidup di lingkungan sosial yang membutuhkan kejelasan mengenai hubungan antara dua orang. Jadilah kami mengikuti prosedur itu. Dia memintaku menjadi pacarnya, aku mengiyakan, kemudian kami saling mengucapkan cinta. Dan sebuah hubungan baru bernama pacaran pun dimulai.

Kalaupun pada akhirnya kami menganggap hal itu semacam formalitas, toh waktu itu dia menanyakannya dengan serius, dan bagi kami yang sama-sama susah serius, momen-momen serius semacam itu akan jadi sesuatu yang akan selalu kami ingat. Lebih penting lagi, formalitas itulah yang akhirnya menyatukan kami. :)

May 12, 2012

Sebuah Awal

Mau nggak kamu jadi pacarku?
Baru beberapa jam yang lalu aku mendengarkan kalimat itu terlontar dari mulutnya, yang kini menjadi kekasihku.

Aku ingat menatap matanya lekat-lekat, kemudian berpaling, terdiam sejenak, hingga dia menginterupsi keheningan. Seolah dia sudah mengetahui jawaban yang akan aku lontarkan. Tak sabaran. Persis sepertiku.

Satu kata yang akan mengakhiri seluruh kelelahan oleh misi pencarian ini. Satu kata lagi, dan aku akan memasuki sebuah awal yang baru.

Tersenyum, aku pun menganggukkan "iya"-ku.

Sebuah pelukan yang mengalirkan kehangatan di sekujur tubuhku mengawali hubungan kami. Petualangan apa yang akan kami hadapi, kuserahkan pada Penguasa semesta.

Titik Akhir?

Tiba-tiba saja hari-hari yang aku jalani tak lagi terasa begitu melelahkan. Tugas-tugas yang terus berdatangan bagai pecutan cambuk membuat aku nyaris lupa bagaimana rasanya pergi nge-date. Yeah, you saw it right. I finally had a date. :))

Dua minggu yang terasa lebih menyenangkan. Obrolan kecil dengan nada suara yang begitu lembut--meski aku tiba-tiba terbahak-bahak--mengenai apa saja yang terlintas di pikiran kami masing-masing. Kejutan-kejutan kecil saat dia menyanyikan lembut lagu-lagu lama yang diputar dari smartphone-ku. Kejutan yang cukup besar ketika dia meladeni obrolan seputar mobil.

Hari ini tepat dua minggu sejak chat pertamanya di bbm, dan kurang dari 12 jam lagi, kami akan membicarakan sesuatu yang lebih serius daripada biasanya. Entah apa yang akan kami bicarakan nanti. Sudah banyak rahasia yang terungkap selama kami menjalani dua minggu penuh petualangan dan godaan dari teman-teman.

Semoga akan ada cukup waktu. Aku hampir sampai ke titik akhir, garis finish-ku. Akankah dia menunggu di sana?

Apr 30, 2012

Extraordinary Love

Semua berawal dari RT-an tweet tentang The Avengers yang berujung pada sebuah percakapan kecil, dan akhirnya kamu menekan tombol follow di akunku. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan baru muncul di kotak DM-ku, tepat ketika aku baru saja memikirkan hal yang kamu tulis di DM pertamamu.

Percakapan demi percakapan pun mulai mengalir. Setiap hari kita mengobrol hingga aku tertidur. Lama kelamaan, kita bertatap muka lewat skype. Sudah tak terhitung berapa banyak hal yang kita obrolkan, seolah-olah kita telah saling mengenal selama bertahun-tahun, bukannya 3 hari.

Entah bagaimana mulainya, namun semakin lama, hatiku tergelitik oleh sebuah perasaan lain. Setiap pagi, aku selalu merasa lebih bersemangat ketika kamu menyapaku terlebih dulu, mengirimiku e-mail, dan membuatku tersipu ketika membaca timeline-mu.

Tiba-tiba saja, aku sudah jatuh cinta lagi, kali ini dengan cara yang tak biasa.


Apr 17, 2012

'Merapikan Kertas-Kertas'

Banyak sekali yang ingin kulakukan. Entah keinginan-keinginan yang sudah lama kuinginkan ketika aku masih penuh dengan ingin, atau keinginan-keinginan yang muncul karena sesuatu yang benar-benar mempengaruhi hatiku yang masih cukup mudah terbawa arus ini.

Dengan sifatku yang tertarik akan banyak hal-hal baru, tentunya aku akan banyak berkeinginan ini-itu. Namun semuanya masih sebatas ingin. Sisi kekanakanku yang masih ingin bebas dari segala tanggung jawab belum bisa kutaklukkan untuk melaksanakan keinginan-keinginanku itu.

Benar, aku belum berhasil mengalahkan diriku sendiri.

Keinginan yang masih sebatas ingin adalah masalah terbesarku. Tumpukan-tumpukan keinginan kian menggunung menjadi seperti tumpukan kertas di sudut otakku yang seharusnya kugunakan untuk menyerap berbagai teori yang selama ini sudah diberikan dosen-dosenku dengan susah payah. Aku masih terlalu malas (atau dengan pembenaranku selama ini, 'sibuk') dengan hal-hal lain hingga aku lupa 'merapikan' kertas-kertas itu.

Mengapa kertas-kertas? Karena selama kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, kertas adalah barang yang wajib untuk dipegang, terutama ketika ujian menjelang. Rasa-rasanya aku ingin membeli komputer tablet sehingga aku tidak perlu lagi menghabiskan hasil olahan pohon yang semakin sedikit itu. Ha! Satu lagi keinginan yang terucap (atau dalam kasus ini, tertulis).

Dengan waktu yang semakin sempit, aku harus cepat merapikan kertas-kertas yang bertumpuk ini segera, dan menemukan satu kertas yang berisikan keinginan terbesarku, dan meletakkannya 5 cm di depan mataku.

Apr 13, 2012

Konspirasi?

Sepertinya Tuhan dan Cupid sedang berdiskusi seru di surga. Mereka memutuskan untuk sedikit membuka pintu duniaku agar aku bisa keluar dan bertemu dengan pribadi-pribadi baru.

Tiba-tiba saja, aku sudah bertemu banyak cowok-cowok hebat.

Setelah begitu lamanya aku 'salah jalan', dengan mendekati cowok yang kusukai lebih dulu, akhirnya aku memutuskan untuk menahan diri dan menganggap bahwa suatu saat, ketika jodohku sudah capek bersembunyi, ia akan keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiriku secara tiba-tiba namun pada waktu yang tepat.

Belakangan ini, keputusanku seolah hendak digoyahkan. Pertama, cowok yang sangat aktif di kegiatan rohani. Kedua, cowok berhati tulus. Ketiga, cowok yang (hampir) mapan. Keempat, cowok yang mempelajari budaya Indonesia di negara tempatnya tinggal.

Dengan situasiku yang sudah cukup lama menahan rindu untuk kembali merasa bangga karena berhasil menarik perhatian lawan jenisku, tentu aku harus lebih menahan diriku lagi agar tak bertindak gegabah, seperti yang sudah dua kali kulakukan. Tidak, tidak, aku harus fokus pada tujuanku sendiri. Jika suatu saat memang salah satu dari mereka itu jodohku, aku yakin mereka bisa menemukan jalannya sendiri menuju bagian hatiku yang terdalam.

Aku benar-benar egois ya?

Namun, bila tidak, toh Tuhan dan Cupid sudah sangat banyak mewarnai hidupku dengan pribadi-pribadi baru. Pribadi-pribadi baru yang hebat setiap harinya akan semakin memacuku untuk menemukan satu tujuan di dalam hidupku, yang sudah terlalu sering terucap, namun belum pernah menggalinya lebih dalam.

Untuk sementara, urusan hati ini kuletakkan di atas meja rapat, sementara aku menenggelamkan diri dalam kompetisi akademik. Biar Tuhan dan Cupid yang mengurusnya. Yang harus kulakukan lebih dulu, akan kulakukan yang terbaik.

Apr 8, 2012

Menulikan Hati

Aku termenung, memikirkan kata-kata yang masih berputar-putar di kepalaku seperti gasing. Lagu berirama lambat yang kuputar berulang-ulang menambah kebisuanku. Duniaku diam, meski dunia di luar sana terus berjalan.

Suara tawa samar-samar di luar kamarku seolah mengejekku. Aku tak menyalahkan mereka yang sedang melanjutkan hidupnya dengan penuh kebahagiaan, sangat berlainan denganku yang berusaha untuk tidak bertindak bodoh karena otakku yang mulai kacau oleh tekanan-tekanan yang membuatku nyaris susah untuk bernapas.

Selanjutnya, yang kutahu, aku sudah menjatuhkan sebagian besar barang-barang di meja belajarku di lantai kamar, dengan rasa asin yang membanjiri sudut mulut dan lidahku. Aku begitu marah, namun aku tak ingin menyakiti perasaan orang-orang yang sedang berbahagia menjalani hidupnya di luar sana, sehingga aku lebih memilih untuk menyakiti perasaanku sendiri. Rasanya lebih mudah untuk melakukan hal itu dibandingkan aku harus menerima tatapan terluka dari teman-temanku ketika aku mulai bersikap emosional dan semua pilihan kataku sangat intimidatif bagi mereka.

Untuk itulah, aku menyakiti hatiku sekali lagi, berharap bisa menulikannya dari kenyataan yang akan lebih melukainya lagi. Lebih baik aku menyakitinya lebih dulu daripada orang lain menyakitinya lebih dalam lagi.

Aku mungkin tidak tuli, tapi aku ingin menulikan hatiku dari kenyataan.

Mar 20, 2012

Doin' Just Fine?

Getting along very well, without you in my life...

Sederet lirik lagu Boyz II Men itu kuputar berulang kali di kepalaku. Ritme otakku dalam berpikir juga mulai melambat seperti lagu itu. Tapi aku tak peduli.

Hatiku serasa dihantam dengan batu seukuran kepalan tangan Hulk ketika melihat pernyataan itu. Kepalaku dipenuhi pernyataan-pernyataan kejam bahwa aku lagi-lagi kalah dengan seorang perempuan lain yang berhasil mencuri hatinya lebih dulu, dan menertawakan hatiku yang mulai menangis lagi, membuat luka lamanya kembali terbuka.

Aku tiba-tiba pusing, tak sanggup berkata-kata, bahkan untuk melanjutkan tugas presentasiku yang harus selesai dalam waktu kurang dari 4 jam lagi pun aku tak sanggup. Tanganku mulai gemetar di atas keyboard, mengetikkan kalimat yang terlintas di kepalaku dengan cepat, dan menekan tombol Enter.

Biarlah, aku tak peduli lagi.

Kali ini, aku ingin tenggelam dalam kesedihanku. Kali ini saja.

Setelah beberapa jam berlalu, pertahananku benar-benar runtuh. Aku bisa merasakan asinnya air mata di sudut mulutku, berusaha menahannya sekuat tenaga, namun rasa sakit yang pilu membuatku semakin terisak, seolah dengan itu aku bisa sedikit mengurangi penderitaan yang sudah dua kali dialami hatiku.

Biarlah kali ini aku menangis bersama hatiku yang sudah dengan tabah menerima berbagai dera karena otakku kerap kali mengirimkan sinyal-sinyal yang membuatnya berdebar terlalu keras pada orang yang salah.

Orang yang salah. Perlahan kesadaranku kembali. Sudah dua kali aku menyerahkan sekeping bagian hatiku pada orang yang salah, yang dua kali membuatku terluka. Satu kali aku bisa menyembuhkan luka itu dengan cepat karena aku mendapat keberuntungan yang tak disangka-sangka, namun aku tak pernah menyangka akan bertemu seseorang yang akan menghancurkan hatiku untuk kedua kalinya.

Aku tak peduli soal sandiwara. Sandiwara apapun itu, aku tak ingin memercayainya. Sudah cukup banyak kesulitan yang ditimbulkan oleh sebuah sandiwara, dan aku tak ingin menambahnya lagi.

Aku sadar, aku harus cepat bangun, berdiri, dan memulai perjalananku kembali dari awal. Aku janji, perjalanan kali ini tak akan sama seperti yang sebelumnya.

I'll be doing just fine.

Mar 11, 2012

3 Days In Singapore with @KartuFB

"Ah, jadi seperti ini rasanya berada di belahan dunia lain."

Kalimat itulah yang terlintas pertama kali di benak gue saat akhirnya gue berada di Singapura.

Kaget dan senang adalah ekspresi paling wajar yang gue keluarkan ketika gue terpilih sebagai pemenang kuis High Quality Jomblo (tsaaahh!) dari Kartu Facebook. Bahkan sahabat gue sampai berkomentar seperti ini di twitter:

Errr, terima kasih banyak, Man. X))
Maka liburan singkat gue di Singapura pun DIMULAI!

Hari pertama


Sekeluarnya dari bandara, rombongan kami pun berkeliling kota dan makan di restoran Kublai Khan. Di restoran ini, ada koki yang beratraksi memasak daging dan sayur di sebuah wajan raksasa dalam ruangan kaca besar sehingga kita semua bisa melihat. Seperti melihat lumba-lumba dalam tangki raksasa di Sea World gitu deh. *dikepruk kokinya*

Setelah kenyang, kami melanjutkan berkeliling kota. Karena gue duduk di tempat duduk favorit yakni di dekat jendela, maka jadilah gue lebih banyak melihat pemandangan kota Singapura yang didominasi gedung-gedung bertingkat. Bus-bus dan taksi yang ditempeli stiker-stiker iklan selalu sukses membuat gue tertawa dalam hati, meski gue juga berpikir, kapan transportasi umum di Indonesia bisa sukses membuat orang-orang tak ingin memiliki kendaraan pribadi. *lho kok malah jadi serius*

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju landmark kota Singapura, patung singa berekor ikan. Masa ke Singapura nggak datang ke Merlion Park sih? :p Jadilah kami berfoto ria di sana, berpose mainstream atau yang anti-mainstream seperti 'minum' dari air yang keluar dari mulut Merlion.

Waktunya belanja! Kami menuju toko cokelat Vis Konsep. Untunglah gue berhasil mencegah air liur gue mengalir deras seperti air yang keluar dari mulut patung Merlion, bisa-bisa gue kena denda. Di sana gue membeli 2 kotak cokelat Merlion rasa tiramisu dan 3 batang dark chocolate yang kemasannya bergambar dolar Singapura dengan rasa berbeda-beda. Yang membuat gue makin senang, di toko ini kita bisa membayar menggunakan Rupiah! Tapi pastikan kita membayarnya tidak terlalu berlebih, karena mereka tidak memberi kembalian. Gue sengaja membayar dengan Rupiah supaya nggak langsung menggunakan uang saku yang diberi sama Kartu FB, hihihi…

Puas mencium aroma cokelat yang menerbitkan air liur, kami pun meluncur ke Bugis Street. Di sinilah gue menghabiskan sedikit uang saku gue dengan membeli mug, kartu pos untuk keponakan gue yang hobi mengoleksi barang yang sudah mulai langka itu, dan kaos I ♥ SG. "3 for 10 dollar laaah!" adalah logat Singlish favorit gue, yang nantinya menjadi tren di antara para pemenang kuis High Quality Jomblo Kartu FB. Setelah susah payah menahan godaan sepatu-sepatu lucu seharga 10 dolar dan passport holder bermotif bendera Inggris seharga 6 dolar, gue berhasil belanja dengan total 20 dolar, karena gue berniat menghabiskan sisanya di Universal Studios. :))

Setelah makan malam, dengan kelelahan yang amat sangat, kami pun menuju ke hotel Cultural yang terletak di dekat Mustafa Centre.



Hari Kedua


Hampir setengah hari kedua ini dihabiskan di Pulau Sentosa. Tujuan utama, tentulah Universal Studios Singapore!


Tiba di Universal Studios, rombongan kami berfoto bersama, kemudian masing-masing berpisah dengan kelompoknya untuk menikmati wahana-wahana di sana. Transformers: The Ride adalah yang pertama kali gue coba. Damn, wahana itu bener-bener bikin ketagihan! Efek 3D yang luar biasa dan membuat jantung gue hampir copot ketika roller coaster bergerak seolah jatuh dari gedung tinggi dan kemudian ditangkap oleh Bumblebee, robot kesayangan gue. Oh, dan gue seolah bisa menyentuh peluru raksasa yang ditembakkan Megatron ke arah gue. Optimus Prime? Tetap tampan seperti biasa.

Dengan adrenalin yang mulai bergejolak, gue pun mencoba wahana ekstrim kedua, Battlestar Galactica, si roller coaster kembar. Iya, kembar! Gue memilih track Cylon yang berwarna biru. Singkat cerita, setelah satu menit yang memusingkan karena track Cylon adalah inverted track sehingga beberapa kali gue bergantung terbalik di udara, akhirnya gue melanjutkan petualangan dengan naik roller coaster (lagi) Revenge Of The Mummy. Rasanya? Sebaiknya kalian coba sendiri. :p

Satu-satunya wahana yang cukup 'tenang' adalah pertunjukan Shrek 4D di istana Far Far Away. Melihat aksi Shrek dan kawan-kawan yang lucu dan menggemaskan (sayang di sini nggak ada Puss) ditambah dengan kejutan-kejutan kecil yang membuat efek 4D semakin terasa.

Keluar dari Far Far Away, kita menghabiskan waktu berfoto dengan karakter-karakter dari film seperti Alex dan King Julien dari Madagascar, Po the kung fu panda, Puss in Boots, Marilyn Monroe, Dr. Frankenstein, dan Charlie Chaplin. Ada Woody Woodpecker juga! :)))




Oh ya, ada satu lagi yang nggak boleh lupa. Pertunjukan Waterworld! Pertunjukan yang diadaptasi dari film dengan judul yang sama itu bener-bener membuat gue takjub. Aksi para pemain profesional yang tampan di pertunjukan itu bener-bener membuat gue seolah menonton kembali film Waterworld namun dalam sebuah stadion kecil dengan kolam raksasa di tengah-tengahnya.

Setelah puas (sebenernya sih belum) berpetualang di Universal Studios (mau kesini lagi!), kami pun menuju pinggir pantai Pulau Sentosa untuk menyaksikan pertunjukan Songs Of The Sea. Dengan tiket seharga 10 dolar, Songs Of The Sea was definitely breathtaking! Air mancur warna-warni dan efek sinar laser yang ditembakkan ke air mancur-air mancur raksasa bener-bener bikin seluruh badan gue merinding! Pertunjukan ini bener-bener nggak boleh dilewatkan kalau suatu saat ke sini lagi!


Hari Ketiga


Tibalah hari yang paling tak diinginkan setelah semua petualangan kemarin. Singapura seolah nggak menginginkan kami pulang terlalu cepat dengan membuat hujan turun pagi itu. Well, life must go on. Setelah mengucapkan terima kasih kepada tour guide kami yang setia menemani selama di Singapura, kami pun kembali ke Indonesia untuk kembali menjalani rutinitas masing-masing.
Terima kasih banyak Kartu Facebook untuk liburan 3 hari yang menyenangkan dan teman-teman baru yang seru! Hope we'll meet again soon! :D

Mar 8, 2012

Exploring Earth: Singapore

Ini pertama kalinya aku ke luar negeri.

Keberuntunganku yang sangat tak disangka-sangka membawaku ke Singapura, negara 'imut' yang berjarak sangat dekat dengan Indonesia. Terkejut dan bahagia adalah reaksi pertamaku, membayangkan aku akan kembali menjelajahi tempat baru di dunia.

Meski pagi ini diawali dengan sebuah insiden kecil akibat keteledoranku, namun segala proses keberangkatan berjalan lancar dan akhirnya aku melihat cap pertama di lembar pasporku, berbentuk segitiga. Untunglah aku tak berteriak-teriak kegirangan seperti anak kecil yang diberi es krim berukuran raksasa.

Perjalanan dari Indonesia ke Singapura selama satu setengah jam berjalan cukup baik, meski pendaratannya kurang mulus. Apakah memang selalu begitu jika pergi ke Singapura?

Memasuki terminal bandara Changi, aku seolah berubah menjadi seekor jerapah kecil yang penasaran dengan dunia yang sama sekali baru di sekitarnya. Aku menjulurkan leher ke sana ke mari, melihat arsitektur gedung terminal yang jauh berbeda yang sudah sering kujumpai di Cengkareng. Bangunan yang berlangit-langit tinggi dan dipenuhi kaca dan tanaman-tanaman hias yang digantung di dinding membuat suasana menjadi terang, begitu pula lantai yang seluruhnya dari karpet sehingga suara langkah kita tidak terdengar sama sekali meski memakai heels. (Tidak, bukan aku yang memakai heels)

Masih belum puas melihat-lihat, aku dan rombonganku sudah harus keluar dari bandara untuk memulai petualangan kami. Tunggu di post selanjutnya ya!

Jan 29, 2012

Nostalgia

Tiba-tiba saja, aku sudah mengetikkan 'Simple Plan Jakarta' di tab search YouTube dan melihat deretan video konser mereka dua minggu lalu. Suara Pierre Bouvier yang khas segera memenuhi ruangan kamarku yang kecil.

Aku merasa tertarik ke masa lalu. Sebuah kaset Simple Plan yang diberikan seseorang dari masa laluku mendadak memenuhi pikiranku yang seharusnya disesaki oleh teori-teori komunikasi massa.

Aku tak sanggup berpikir jernih. Video demi video terus kuputar. Setelah puas melihat aksi panggung Pierre Bouvier dan kawan-kawan, aku kembali memutar lagu-lagu Simple Plan dari album pertama hingga terakhir. Masa-masa SMP yang diwarnai dengan lagu-lagu mereka membuatku bernostalgia.

Kaset bersampul hitam polos itu kembali memenuhi otakku. Hadiah terakhir darinya sebelum kami berpisah. Aku masih menyimpannya sampai sekarang.

Kepada seseorang yang memberi kaset itu 4 tahun lalu, aku rindu padamu. Bisakah kita bertemu lagi?

Jan 25, 2012

Mencintai Kamu, Boleh?

Pertanyaan retoris, sekaligus pertanyaan yang sangat ingin kuutarakan padamu.

Selama aku menjauhi linikala, aku masih tak bisa menahan diri untuk tidak mengintip linikala-mu, untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja.

Aku tak berani menghubungimu duluan, karena aku tak ingin melihat balasanmu yang dingin, sekadarnya. Aku tak mau segala usahaku untuk memulihkan diri gagal begitu saja.

Mungkin mencintai kamu adalah hal yang boleh kulakukan, tapi apakah kamu akan mencintaiku juga?

Jan 23, 2012

Pertanyaan Aneh

Mengapa hanya aku yang bisa melihat dunia ini? Mengapa bukan dunia yang melihatku?

Kedua pertanyaan itu telah kupikirkan sejak aku berumur 8 tahun, ketika aku sedang duduk di motor dan sedang dalam perjalanan ke sekolah. Aku menatap pepohonan yang bergerak bergantian setiap detik, dan tiba-tiba berpikir, bagaimana rasanya jika aku menjadi pohon dan aku melihat diriku sendiri bergerak sambil menatap barisan pohon yang berderet?

Kedengarannya gila, tapi aku sudah memikirkan ini sejak lama. Ketika aku membaca serial Harry Potter, aku melihat bahwa konsep Pembalik-Waktu hampir sama dengan pertanyaan besarku selama ini. Mengapa aku tak bisa melihat diriku sendiri?

Secara literal.

Jatuh Cinta?

Mengapa cinta selalu jatuh? Tak bisakah dia terbang sekali-sekali?

Seharusnya aku tak melemparkan pertanyaan bodoh itu.

Aku sendiri telah jatuh, dan hampir tak mampu bangkit kembali.

Hampir.

Sejujurnya, aku masih mencoba duduk.

Jan 20, 2012

Menyembuhkan Diri

Hari ini, aku menonaktifkan akun Twitterku untuk sementara. Agak sedih rasanya, tapi aku tak ingin membanjiri linikala teman-temanku dengan kalimat menyedihkan yang diakibatkan oleh kacaunya perasaanku.

Ya, aku baru saja kalah oleh patah hati.

Keingintahuanku menghancurkan diriku sendiri. Linikala seseorang yang sangat kusukai membuatku kehilangan harapan akan sebuah kesempatan untuk memasuki pintu hatinya. Semakin aku menyusuri linikalanya ke bawah, aku semakin hancur.

Ini adalah titik di mana aku bahkan tak sanggup berpikir normal dan segalanya terasa seperti angin lalu buatku. Linikalaku semalam membuktikan hal itu.

Kalah sebelum perang? Pengecut menyedihkan? Terserah kalian mau menyebutku apa.

Aku ingin menjauh, bersembunyi, dan menyembuhkan diriku. Berharap Tuhan segera mempertemukanku dengan seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta lebih dalam daripada yang kurasakan padanya sekarang.

(atau, suatu saat dia menyadari bahwa yang mencintainya selama ini adalah aku…)


Jan 18, 2012

Sekilas Tentangmu

Cinta itu merah, begitu pula Manchester United.

LED BlackBerry yang berkedip manja. Detak jantung yang memburu ketika sosokmu tertangkap mata.

Tuhan pasti teringat akan mahakarya Michaelangelo ketika menciptakan kamu.

(Apakah Dia memikirkanku juga?)

Bilakah kamu mengizinkanku masuk ke dalam hatimu? Aku sudah lama menunggu di luar, menunggumu membuka pintu.

Alasan menghilang ketika kucari, lidahku kelu menjawab.

Bayangmu tetap tinggal, meski ragamu tak terlihat mata. Membuatku gila.

Mataku buta, telingaku tuli, mulutku bisu pada kenyataan yang berceloteh riang tentang dirinya yang telah menyentuh sebuah ruang di hatimu.

Sosokmu yang nyata adalah bahagiaku. Kabar baikmu adalah legaku.

Kukunci rapat segala rasa, menggantungkan asa di angkasa. Berharap engkau tetap sama.

Sekilas tentangmu, biarlah menjadi pemancing imajinasi para pencari cinta.

(Aku mencintaimu, kuharap kamu mendengarnya)