Oct 22, 2012

Cecaran Pikiran #1

Siapa suruh lo bertindak bodoh? Siapa suruh lo nggak berpikir lebih panjang?

Sekarang nyesel? Siapa lagi yang mau lo salahin? Diri lo? Nggak kasihan sama dia?

Kali ini, kebodohan lo udah melewati batas. Nggak seharusnya lo ngebuang kesempatan itu cuma gara-gara keteledoran lo. Kalo emang lo nggak tau, jangan gengsi. Jangan nganggep diri lo tau segalanya. Jangan malu dibilang bodoh. Mending malu sekarang daripada malu karena ketahuan pura-pura tau.

Lo itu masih terlalu cuek terhadap hal-hal penting dan malah mentingin hal-hal nggak penting? Lo taunya ngehindar ketika masalah dateng, dan ngarepin orang-orang nggak tau. Lo itu masih terlalu pengecut. Lo itu pinter, tapi masih bodoh. Lo masih belom punya karakter. Pribadi lo masih lemah. Pikiran lo masih kurang dalam. Lo sendiri masih kurang sigap dalam menghadapi masalah. Entah apa yang terjadi sama diri lo.

Gue tau kalo lo itu gue, dan gue nggak mau kita terus-terusan berantem karena sifat yang saling berlawanan. Makanya gue ngerasin lo supaya lo itu lebih berani. Mana lo yang percaya diri? Mana lo yang nggak pernah takut sama apa yang orang lain bilang? Mana lo yang cerdik? Mana lo yang dulu?

Gue harap sebelum tahun ini berakhir lo bisa sedikit lebih pintar daripada sekarang. Lo boleh muda, tapi apa lo mau terus-terusan dianggap remeh karena itu? Gimana lo mau dikenal sama dunia kalo lo sendiri masih belom bisa ngenalin diri lo sendiri dan ngembangin sisi-sisi positif yang lo punya?

Lo harus bisa nemuin jati diri lo sebelum lo meninggalkan usia belasan, dan itu nggak lama lagi. Bisa lo ngelakuin itu? Bisa lo nentuin target dan mastiin itu tercapai? Apa rencana lo selanjutnya? Apa yang mau lo lakuin di dunia bobrok ini?

Bahkan gue lebih pinter mencecar lo dibandingkan lo mencecar narasumber. Lo takut kena masalah? Buat apa lo hidup kalo lo nggak mau kena masalah?

Lo nggak boleh gini terus, Deb. Lo harus berubah. Nggak ada waktu lagi. Sebelum segalanya terlambat dan tau-tau lo dihadapkan sama satu masalah yang menuntut lo bertanggung jawab atas pilihan lo, lebih baik lo mulai menentukan sikap mulai sekarang. Inget, nggak punya sikap itu juga sikap. Nothing is something.

Maafin diri lo. Buang semua penyesalan, dan berubah. Belajar dari kesalahan lo. Jangan pernah ngandelin kekuatan lo sendiri. Gue yakin lo pasti bisa nemuin karakter lo sendiri, identitas lo, jati diri lo, substansi keberadaan lo di dunia. Gue nggak bakal berhenti mencecar lo sebelum lo menemukan permata di dalam diri lo. Lo butuh pemicu untuk mengeluarkan segala bakat yang udah hampir membusuk karena lo pendam terus-menerus. Siapa lagi yang bisa mencecar diri lo kalo bukan gue?

Oct 21, 2012

Kontak Ponsel dan Satu Nama


Aku menyusuri setiap nama di kontak ponselku, mencoba merapikan setiap nama dengan nama sebenarnya, bukan label yang kubuat agar bisa membedakan mereka dengan kontak lain yang memiliki nama sama. Fungsi kolom perusahaan kumanfaatkan semaksimal mungkin untuk merapikan setiap kontak. Menghapus kontak yang tidak lagi menghubungiku lebih karena nomor ponselku yang telah berubah, dan mengira-ngira haruskah aku menanyakan kembali nomor ponsel kontak yang cukup penting.


Sampai akhirnya, pandanganku terpaku pada satu nama di kontak ponselku.

Satu nama. Sebuah nomor ponsel yang sangat mudah diingat bertahun-tahun lalu. Hari itu. Tahun itu.

Hatiku kembali mencelos. Dunia sekelilingku tiba-tiba mengabur dengan kenangan-kenangan yang berputar sangat cepat dalam pikiranku. Aku sempat merasa bahwa aku akan terjatuh, namun kesadaranku kembali, dan aku bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Dan 'bersikap seolah tak terjadi apa-apa' adalah salah satu keahlianku. Dunia kembali berjalan seperti biasa.

Oct 4, 2012

Menumbuhkan Sayap

Aku adalah calon kupu-kupu. Saat ini, aku sedang berada di dalam sebuah selubung putih. Aku tidak makan apapun, tidak melihat cahaya matahari, tidak pergi bermain bersama yang lainnya. Aku berada dalam dunia kecilku sendiri.

Menumbuhkan sayap itu tidak mudah, kau tahu. Bayangkan bila tiba-tiba sepasang sayap yang keras keluar dari balik punggungmu yang kenyal, bukankah itu menyakitkan? Tidakkah kau ingin tetap bergerak lambat dan menggigit dedaunan, tanpa harus terperangkap dalam serat-serat kasar dan menunggu dalam diam?

Tapi bila aku tidak menumbuhkan sayap, maka aku akan tetap menjadi sang ulat kecil, yang bergerak lambat ketika teman-temanku telah mengelilingi separo dunia dengan sayap mereka yang lebar. Untuk itulah aku menarik diri, memintal serat untuk membangun selubungku, dan berdiam diri sementara.

Dan ketika saatnya tiba, aku akan bisa mengembangkan sayapku sendiri, mengepakkannya, dan menjelajahi dunia.