Oct 30, 2013

S.O.S. (Skripsi Oh Skripsi)

Skripsi. Satu kata yang bisa membuat hati tiap mahasiswa tingkat akhir mencelos. Entah itu karena revisi yang belum selesai, dosen pembimbing yang susah ditemui, atau karena niat yang susah untuk dicari.

Dan, untuk kasus gue, anak kalimat ketiga adalah jawabannya.

Mungkin emang bener, skripsi itu susah-susah gampang. Susah ketika niat yang diperlukan untuk mengerjakan bab demi bab tiba-tiba menguap tiap kali kata 'skripsi' terucap (SEMPAT-SEMPATNYA BIKIN RHYME!). Terutama bagi orang yang isi pikirannya berantakan kayak gue. Yang lebih mementingkan nulis posting ini ketimbang ngebaca ulang buku representasinya Stuart Hall. Yang lebih mikirin rencana traveling berikutnya ketimbang menyelesaikan bab 2. Yang lebih mikirin masa depan ketimbang menghidupi masa sekarang. Yang prioritasnya berantakan, lebih tepatnya.

Entah karena dominasi otak kanan gue atau gue yang terlalu malas untuk memulai (mungkin ini yang lebih tepat), gue hampir selalu mengerjakan tugas dan kewajiban gue dalam hitungan jam menuju deadline. Gue kebanyakan menghabiskan waktu untuk browsing hal-hal yang sebenarnya-penting-tapi-masih-bisa-ditunda; kayak beasiswa S2, harga tiket pesawat ke negara mana pun yang terlintas di pikiran gue, membaca dan membeli buku (yes, I've found my passion in reading again, at the wrong time), belum lagi hasrat traveling yang--untungnya--sudah terpuaskan 2 minggu lalu; which means, skripsi gue masih belom kesentuh sampai sekarang.

Jika gue masih berniat mengejar sidang bulan Desember, maka idealnya gue mulai menggali penelitian gue dari awal bulan ini. Tapi, 2 minggu 'liburan' masih belum cukup meningkatkan motivasi gue. Malahan motivasi gue untuk menulis hal-hal lain--terutama traveling--yang semakin meningkat. Sementara penelitian gue masih sedangkal parit di pinggir kolam renang anak-anak.

I'm so doomed, aren't I?

...

Satu-satunya yang bikin gue terpecut untuk mulai skripsian hanyalah ingatan akan orangtua gue, terutama Bapak, yang bekerja jauh-jauh di pedalaman Kalimantan demi anaknya yang bandel ini supaya lulus. Tapi, gue butuh lebih dari sekadar dipecut. Disambar petir dari Mjölnir-nya Thor, nah, itu baru pas untuk membangkitkan niat skripsi gue yang mati suri karena kalah dari niat menulis posting ini.

Baiklah, curhatnya sekian dulu. Kali ini, panggilan buku Stuart Hall akan gue tanggapi dengan senang hati. Semoga seluruh mahasiswa tingkat akhir yang senasib seperjuangan bisa segera meluluskan diri!

Jul 8, 2013

Lucu?

Manusia itu lucu, dan entah mengapa Tuhan bisa menciptakan makhluk selucu manusia. Apakah karena Tuhan juga lucu? Ataukah Tuhan butuh hiburan setelah capek mengurus alam semesta?

Entahlah.

Kembali lagi. Manusia itu lucu. Sesedih apapun kisah hidupnya, manusia tetaplah manusia, dan manusia itu lucu.

Dengan pikirannya, manusia membangun dunianya sendiri. Berbagai keputusan yang berdampak pada kejadian tertentu, pemikiran yang menghasilkan perkataan tertentu, semuanya itu membentuk suatu dunia. Terkadang, ada dua dunia yang bertubrukan dan menjadi satu, meski ada kalanya hanya saling menyerempet.

Manusia selalu punya sesuatu untuk dikatakan tentang orang lain, meski terkadang ia tak mau dikatai oleh orang lain. Beberapa manusia menyimpan perasaannya sedemikian rupa, hingga meledak bagai gunung berapi. Sebagian lain hanya ikut arus besar, tanpa berusaha mencari arus-arus lain yang lebih tenang namun lebih menghanyutkan.

Sebagian manusia masih belum tahu apa yang ingin dia lakukan dengan hidupnya. Beberapa terjebak di masa lalu. Lainnya, sibuk mencari sorotan di panggung duniawi. Beberapa gelintir, terbahak-bahak di belakang panggung, dengan tangan masih memegang tali yang digunakannya untuk mengendalikan boneka-boneka di atas panggung.

Beberapa manusia tertahan oleh pikiran-pikirannya. Beberapa manusia hanya akan berpikir jika sudah pernah melihat wajah Kematian. Yang lainnya, mencoba mensinkronisasikan pikiran dan kata hatinya.

Manusia itu lucu dengan caranya sendiri.

Jul 6, 2013

Ketika Tuhan Bosan...

Pernahkah Ia bosan? Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi pikiranku yang hobi melucu mulai membayangkan hal-hal yang dilakukan-Nya jika Ia pernah merasa bosan.

Ia menembakkan bintang-bintang di setiap galaksi ke seluruh penjuru alam semesta, untuk menampung keinginan tiap makhluk yang mengisi alam semesta. Bintang-bintang itu melewati galaksi lain, mengelilinginya, mendengarkan setiap keinginan yang terucapkan ataupun tidak. Meski mungkin, tidak semua keinginan dapat ia penuhi.

Tuhan punya pemutar musik spesial, sebuah kotak musik yang hanya bisa didengar oleh-Nya. Entah apa lagu kesukaan-Nya, yang pasti, tiap kali Ia merasa bosan, ia membuka kotak musik itu dan mendengarkan alunan melodinya.

Apakah Tuhan juga membaca buku? Tentu saja. Ia bahkan menulis buku mengenai makhluk-makhluk yang akan mengisi berbagai planet di alam semesta. Ia juga menambahkan nama-nama baru di buku kehidupan, yang halamannya sudah sangat tebal seperti bantal.

Oh, Tuhan juga punya bioskop pribadi. Kehidupan semua makhluk di alam semesta adalah koleksi film yang dimiliki-Nya. Tak satupun kejadian terlewatkan oleh-Nya. Setiap hela napas, helai rambut dan daun yang jatuh, setiap sel yang bertambah, Dia tahu.

Bila sudah bosan menonton film, Tuhan berjalan ke halaman belakang sorga yang berpemandangan indah. Jurang yang memisahkan sorga dan neraka adalah pemandangan halaman belakang sorga. Di sorga tidak ada gunung berapi, sehingga Tuhan biasanya duduk di halaman belakang, melihat gunung berapi neraka dari kejauhan. Entah apa yang dipikirkan Tuhan bila Ia sedang duduk di halaman belakang.

Lagi-lagi, bila Tuhan bosan, Ia mulai bernyanyi. Ya, Tuhan pasti bisa bernyanyi. Nyanyian-Nya lebih merdu dari kicau burung terindah. Bila Ia mulai bernyanyi, seluruh penghuni sorga diam sejenak, mendengarkan nada-nada yang tak ada di tangga nada manapun. Dan, biasanya seluruh penghuni sorga akan mulai menari, berpasangan atau berkelompok, mengiringi nyanyian Tuhan. Ketika Tuhan sudah selesai bernyanyi dan membuka jendela istana-Nya, seluruh penghuni sorga segera berhenti menari, lalu kembali mengerjakan tugas masing-masing.

Apa lagi yang akan dilakukan Tuhan bila ia bosan? Entahlah, aku pun tidak tahu. Aku juga tidak tahu apabila Tuhan pernah bosan. Maksudku, mengurus alam semesta tidak selalu menyenangkan, bukan?
Mungkin, Tuhan terlalu mencintai pekerjaan-Nya, sehingga tidak punya waktu untuk merasa bosan.

Apr 19, 2013

Tentang Manusia

Setiap calon manusia memiliki sekian persen kemungkinan untuk tidak menjadi manusia.

Dan tidak semua manusia dapat hidup selayaknya manusia, oleh karena manusia yang lain.

Manusia menghilang, menghilangkan, kehilangan, dan pada akhirnya hilang.

Kapankah manusia menjadi manusia? Sampai kapankah kemanusiaan ada pada diri manusia?

Konstruktor dunia sibuk menumpulkan kemanusiaan manusia. Yang lemah terkikis habis, yang bertahan mencoba melawan.

Siapa yang cukup berani mengkonstruksi dunia baru, dengan atmosfir dan gaya gravitasi yang cukup bagi manusia untuk hidup?