Jan 29, 2012

Nostalgia

Tiba-tiba saja, aku sudah mengetikkan 'Simple Plan Jakarta' di tab search YouTube dan melihat deretan video konser mereka dua minggu lalu. Suara Pierre Bouvier yang khas segera memenuhi ruangan kamarku yang kecil.

Aku merasa tertarik ke masa lalu. Sebuah kaset Simple Plan yang diberikan seseorang dari masa laluku mendadak memenuhi pikiranku yang seharusnya disesaki oleh teori-teori komunikasi massa.

Aku tak sanggup berpikir jernih. Video demi video terus kuputar. Setelah puas melihat aksi panggung Pierre Bouvier dan kawan-kawan, aku kembali memutar lagu-lagu Simple Plan dari album pertama hingga terakhir. Masa-masa SMP yang diwarnai dengan lagu-lagu mereka membuatku bernostalgia.

Kaset bersampul hitam polos itu kembali memenuhi otakku. Hadiah terakhir darinya sebelum kami berpisah. Aku masih menyimpannya sampai sekarang.

Kepada seseorang yang memberi kaset itu 4 tahun lalu, aku rindu padamu. Bisakah kita bertemu lagi?

Jan 25, 2012

Mencintai Kamu, Boleh?

Pertanyaan retoris, sekaligus pertanyaan yang sangat ingin kuutarakan padamu.

Selama aku menjauhi linikala, aku masih tak bisa menahan diri untuk tidak mengintip linikala-mu, untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja.

Aku tak berani menghubungimu duluan, karena aku tak ingin melihat balasanmu yang dingin, sekadarnya. Aku tak mau segala usahaku untuk memulihkan diri gagal begitu saja.

Mungkin mencintai kamu adalah hal yang boleh kulakukan, tapi apakah kamu akan mencintaiku juga?

Jan 23, 2012

Pertanyaan Aneh

Mengapa hanya aku yang bisa melihat dunia ini? Mengapa bukan dunia yang melihatku?

Kedua pertanyaan itu telah kupikirkan sejak aku berumur 8 tahun, ketika aku sedang duduk di motor dan sedang dalam perjalanan ke sekolah. Aku menatap pepohonan yang bergerak bergantian setiap detik, dan tiba-tiba berpikir, bagaimana rasanya jika aku menjadi pohon dan aku melihat diriku sendiri bergerak sambil menatap barisan pohon yang berderet?

Kedengarannya gila, tapi aku sudah memikirkan ini sejak lama. Ketika aku membaca serial Harry Potter, aku melihat bahwa konsep Pembalik-Waktu hampir sama dengan pertanyaan besarku selama ini. Mengapa aku tak bisa melihat diriku sendiri?

Secara literal.

Jatuh Cinta?

Mengapa cinta selalu jatuh? Tak bisakah dia terbang sekali-sekali?

Seharusnya aku tak melemparkan pertanyaan bodoh itu.

Aku sendiri telah jatuh, dan hampir tak mampu bangkit kembali.

Hampir.

Sejujurnya, aku masih mencoba duduk.

Jan 20, 2012

Menyembuhkan Diri

Hari ini, aku menonaktifkan akun Twitterku untuk sementara. Agak sedih rasanya, tapi aku tak ingin membanjiri linikala teman-temanku dengan kalimat menyedihkan yang diakibatkan oleh kacaunya perasaanku.

Ya, aku baru saja kalah oleh patah hati.

Keingintahuanku menghancurkan diriku sendiri. Linikala seseorang yang sangat kusukai membuatku kehilangan harapan akan sebuah kesempatan untuk memasuki pintu hatinya. Semakin aku menyusuri linikalanya ke bawah, aku semakin hancur.

Ini adalah titik di mana aku bahkan tak sanggup berpikir normal dan segalanya terasa seperti angin lalu buatku. Linikalaku semalam membuktikan hal itu.

Kalah sebelum perang? Pengecut menyedihkan? Terserah kalian mau menyebutku apa.

Aku ingin menjauh, bersembunyi, dan menyembuhkan diriku. Berharap Tuhan segera mempertemukanku dengan seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta lebih dalam daripada yang kurasakan padanya sekarang.

(atau, suatu saat dia menyadari bahwa yang mencintainya selama ini adalah aku…)


Jan 18, 2012

Sekilas Tentangmu

Cinta itu merah, begitu pula Manchester United.

LED BlackBerry yang berkedip manja. Detak jantung yang memburu ketika sosokmu tertangkap mata.

Tuhan pasti teringat akan mahakarya Michaelangelo ketika menciptakan kamu.

(Apakah Dia memikirkanku juga?)

Bilakah kamu mengizinkanku masuk ke dalam hatimu? Aku sudah lama menunggu di luar, menunggumu membuka pintu.

Alasan menghilang ketika kucari, lidahku kelu menjawab.

Bayangmu tetap tinggal, meski ragamu tak terlihat mata. Membuatku gila.

Mataku buta, telingaku tuli, mulutku bisu pada kenyataan yang berceloteh riang tentang dirinya yang telah menyentuh sebuah ruang di hatimu.

Sosokmu yang nyata adalah bahagiaku. Kabar baikmu adalah legaku.

Kukunci rapat segala rasa, menggantungkan asa di angkasa. Berharap engkau tetap sama.

Sekilas tentangmu, biarlah menjadi pemancing imajinasi para pencari cinta.

(Aku mencintaimu, kuharap kamu mendengarnya)