Jadian. Sebuah kata modern yang biasanya diawali dengan pertanyaan "Maukah kamu menjadi pacarku?", dan dijawab dengan anggukan kecil atau "Iya".
Baru tiga hari lalu, aku memperhatikan timeline dan melihat salah seorang seleb di twitter yang memberi pendapatnya tentang sebuah hubungan yang diawali dengan pertanyaan seperti di atas. Dia nggak setuju dengan sebuah hubungan yang diawali dengan 'penembakan'. Aku sempat tersenyum kecil melihat tweet-tweet-nya, teringat hubunganku sekarang yang diawali dengan 'penembakan' namun dengan cara yang tidak biasa.
Setelah semua petualangan yang kami alami selama dua minggu, tiba-tiba sebuah pertanyaan tercetus begitu saja, "Kapan mau ngomong [soal jadian]?" Jadilah kami menunggu hari yang tepat untuk ngobrol berdua, namun di hari kita jadian, nggak ada sesuatu yang penting yang diobrolin. Kami sibuk bercanda dan tertawa mendengar lelucon masing-masing hingga pertanyaan 'sakral' itu belum juga terucap. Sampai pada akhirnya kita saling mendekat, lalu dia membisikkan pertanyaan itu sambil menatapku lekat-lekat, tanpa berkedip. Kalian tentu sudah tahu cerita selanjutnya, aku sudah menceritakan hal itu seminggu lalu.
Hingga sekarang, aku selalu tersenyum-senyum ketika mengingat proses menuju status 'in a relationship', kalau kata sebuah social media. Proses pendekatan kami sangat penuh kejutan dengan banyaknya hal-hal yang sama-sama kami sukai sehingga membuat kami cepat akrab. Kalimat klise, "Meski aku baru kenal kamu, tapi seperti udah lama kenal sama kamu" itu benar-benar terjadi. Tanpa disadari, dan tanpa alasan yang benar-benar jelas, hati kami sudah terpaut satu sama lain.
Tapi, sekali lagi, kami hidup di lingkungan sosial yang membutuhkan kejelasan mengenai hubungan antara dua orang. Jadilah kami mengikuti prosedur itu. Dia memintaku menjadi pacarnya, aku mengiyakan, kemudian kami saling mengucapkan cinta. Dan sebuah hubungan baru bernama pacaran pun dimulai.
Kalaupun pada akhirnya kami menganggap hal itu semacam formalitas, toh waktu itu dia menanyakannya dengan serius, dan bagi kami yang sama-sama susah serius, momen-momen serius semacam itu akan jadi sesuatu yang akan selalu kami ingat. Lebih penting lagi, formalitas itulah yang akhirnya menyatukan kami. :)