Feb 20, 2015

Ke Mana Saya Ingin Pergi Bersama Lomba Blog Pegipegi?

Pertanyaan di atas adalah ungkapan terhadap kesulitan menentukan destinasi yang paling ingin saya kunjungi di Indonesia. Jika boleh saya katakan, saya ingin mengunjungi semua tempat-tempat indah di Indonesia yang sudah terabadikan dan tersebarluaskan di media massa. Namun, karena saya hanya bisa mendatangi satu destinasi dalam satu waktu, maka saya pun harus memilih.

Dari total 17.000 pulau dan sekian banyak destinasi pariwisata Indonesia yang sudah diketahui, masih banyak lagi destinasi yang perlu dieksplorasi agar pesonanya dapat dipromosikan secara lebih luas. Saya pun lebih memilih destinasi yang berlokasi cukup terpencil dan menyimpan banyak potensi promosi pariwisata. Maka dari itu, tanpa mengurangi rasa kagum dan bangga dengan destinasi pariwisata Indonesia yang lain, saya pun menjatuhkan pilihan pada Kepulauan Anambas, sebagai destinasi yang paling ingin saya kunjungi.

Saya mengetahui keberadaan Kepulauan Anambas pertama kali ketika membaca sebuah majalah traveling, yang sayangnya sekarang terselip entah di mana. Pernah juga iseng mencari tiket pesawat promo ke sana, namun sampai sekarang, rencana masih berupa rencana. Begitu saya melihat lomba menulis di blog ini, saya berpikir, kenapa tidak mencoba menulis tentang Anambas meski saya belum pernah ke sana? Siapa tahu nanti akan diajak betulan.

Alasan utama saya ingin mengunjungi Kepulauan Anambas: pariwisata mereka yang kurang dipromosikan di negeri sendiri. Faktor utamanya adalah lokasi yang cukup terpencil, karena berada di wilayah perbatasan. Contoh paling nyata adalah sang pacar. Ketika mendengar ambisi kecil saya untuk traveling ke Anambas, dia bertanya begini,

"Anambas itu yang punya Malaysia, ya?"

Ya ampun. Gemas sekali saya ketika mendengarnya.

Lalu, saya pun dengan sabar menjelaskan kepadanya bahwa Anambas masih berada di bawah naungan Indonesia, meski lokasinya yang tergolong terpencil, yakni di perairan Natuna dan Laut Tiongkok Selatan, dan berada di antara Singapura dan pulau Natuna. Lokasinya yang terpencil membuat keindahan alamnya masih cukup terjaga, karena sebagian besar dari 238 gugusan pulau tersebut tidak berpenghuni. Saya juga memberikan satu trivia lain, yaitu pada tahun 2012, CNN menobatkan Kepulauan Anambas di urutan pertama dalam daftar lima kepulauan tropis terbaik di Asia. Mengesankan, bukan?

Jika alasan saya dirasa masih kurang, video ini dapat memberikan sedikit gambaran mengenai pesona Anambas. Tentunya saya akan menceritakan lebih banyak lagi, apabila nanti dipilih untuk pergi ke Anambas bersama @pegi_pegi dan ko Alex @aMrazing.



Keinginan saya untuk mengunjungi Anambas tak hanya karena ingin langsung merasakan keindahan alamnya dengan seluruh panca indera, namun juga didasari keinginan untuk menjadi turis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Hal tersebut sesuai dengan prinsip ecotourism, yang didefinisikan oleh The International Ecotourism Society sebagai bentuk turisme yang mengunjungi wilayah alami, menjaga ketahanan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal, sekaligus melibatkan interpretasi nyata dan edukasi. Berdasarkan hal itu, inilah beberapa misi kecil ecotourism saya apabila nanti benar-benar diajak untuk menjelajahi Anambas:
- Mengurangi potensi sampah yang masuk ke Anambas, dengan cara membawa botol minum sendiri. Bukan botol plastik, tentunya, tapi tumbler yang bisa dipakai berkali-kali.
- Memberikan penyuluhan tentang cara menyaring air laut sehingga bisa digunakan sebagai air minum. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya warga lokal yang kesulitan air bersih. (sumber)
- Memberikan dampak positif langsung secara finansial, dengan makan makanan khas Anambas, membeli kerajinan khas Anambas, yakni kain cual, tenunan asli Pulau Siantan dan gasing.

Last but not the least, saya berharap tulisan ini dapat membawa saya melihat langsung keindahan Anambas, agar saya bisa melaksanakan misi saya dengan semangat ecotourism, dan menceritakan lebih banyak lagi mengenai Anambas.

Cheers!


Lomba BLOG-2


Referensi:
- http://indonesia.travel/en/destination/1077/the-anambas-islands
- http://edition.cnn.com/2012/04/13/sport/south-east-asia-sailing/index.html
- http://www.ecotourism.org/what-is-ecotourism

Feb 15, 2015

Sebuah Awal

Hampir dua tahun blog ini nggak di-update, gue lebih memilih sebuah notebook dan aplikasi Day One di hp untuk menulis, tanpa dipublikasikan di Internet. Kemudian setelah notebook itu hampir penuh, gue membeli notebook yang baru. Sudah lebih dari 200 entry--baik itu selesai atau tidak--tertulis di Day One, selama hampir 2 tahun. Nggak cukup banyak memang, tapi gue sedikit puas karena berhasil melatih diri untuk rajin menulis lagi.

Tapi gue masih belum cukup berani untuk kembali nge-blog.

Entah itu karena beban akademis maupun pikiran gue yang sering gue "silent" karena terlalu liar dan gelap (menurut gue). Facebook yang biasa jadi tempat gue memberikan sedikit dari pikiran gue, sekarang jadi tempat sharing dari facebook page lain atau cross-post dari Instagram/Path.

Entah itu karena gue yang nggak berani ambil resiko dan bertanggung jawab akan apa yang gue tulis. Padahal tulisan gue nggak mengancam keamanan nasional. Kebanyakan review film (yang gue belum publish di Letterboxd), dan pikiran yang timbul setelah kepikiran tentang satu hal. Mostly just some thought-provoking things.

Yeah, I'm afraid of my own freaking thoughts.

Lantas apa yang bisa gue lakukan? Satu-satunya orang yang paling bisa memotivasi diri gue sendiri, ya gue sendiri. Nobody's perfect, and I am not, either. Gue akan melatih diri untuk lebih rajin menulis (hingga selesai) dan meng-update blog ini, because I have two other English blogs and they demand to be updated as well.

That's all for now. Cheers!

Oct 30, 2013

S.O.S. (Skripsi Oh Skripsi)

Skripsi. Satu kata yang bisa membuat hati tiap mahasiswa tingkat akhir mencelos. Entah itu karena revisi yang belum selesai, dosen pembimbing yang susah ditemui, atau karena niat yang susah untuk dicari.

Dan, untuk kasus gue, anak kalimat ketiga adalah jawabannya.

Mungkin emang bener, skripsi itu susah-susah gampang. Susah ketika niat yang diperlukan untuk mengerjakan bab demi bab tiba-tiba menguap tiap kali kata 'skripsi' terucap (SEMPAT-SEMPATNYA BIKIN RHYME!). Terutama bagi orang yang isi pikirannya berantakan kayak gue. Yang lebih mementingkan nulis posting ini ketimbang ngebaca ulang buku representasinya Stuart Hall. Yang lebih mikirin rencana traveling berikutnya ketimbang menyelesaikan bab 2. Yang lebih mikirin masa depan ketimbang menghidupi masa sekarang. Yang prioritasnya berantakan, lebih tepatnya.

Entah karena dominasi otak kanan gue atau gue yang terlalu malas untuk memulai (mungkin ini yang lebih tepat), gue hampir selalu mengerjakan tugas dan kewajiban gue dalam hitungan jam menuju deadline. Gue kebanyakan menghabiskan waktu untuk browsing hal-hal yang sebenarnya-penting-tapi-masih-bisa-ditunda; kayak beasiswa S2, harga tiket pesawat ke negara mana pun yang terlintas di pikiran gue, membaca dan membeli buku (yes, I've found my passion in reading again, at the wrong time), belum lagi hasrat traveling yang--untungnya--sudah terpuaskan 2 minggu lalu; which means, skripsi gue masih belom kesentuh sampai sekarang.

Jika gue masih berniat mengejar sidang bulan Desember, maka idealnya gue mulai menggali penelitian gue dari awal bulan ini. Tapi, 2 minggu 'liburan' masih belum cukup meningkatkan motivasi gue. Malahan motivasi gue untuk menulis hal-hal lain--terutama traveling--yang semakin meningkat. Sementara penelitian gue masih sedangkal parit di pinggir kolam renang anak-anak.

I'm so doomed, aren't I?

...

Satu-satunya yang bikin gue terpecut untuk mulai skripsian hanyalah ingatan akan orangtua gue, terutama Bapak, yang bekerja jauh-jauh di pedalaman Kalimantan demi anaknya yang bandel ini supaya lulus. Tapi, gue butuh lebih dari sekadar dipecut. Disambar petir dari Mjölnir-nya Thor, nah, itu baru pas untuk membangkitkan niat skripsi gue yang mati suri karena kalah dari niat menulis posting ini.

Baiklah, curhatnya sekian dulu. Kali ini, panggilan buku Stuart Hall akan gue tanggapi dengan senang hati. Semoga seluruh mahasiswa tingkat akhir yang senasib seperjuangan bisa segera meluluskan diri!

Jul 8, 2013

Lucu?

Manusia itu lucu, dan entah mengapa Tuhan bisa menciptakan makhluk selucu manusia. Apakah karena Tuhan juga lucu? Ataukah Tuhan butuh hiburan setelah capek mengurus alam semesta?

Entahlah.

Kembali lagi. Manusia itu lucu. Sesedih apapun kisah hidupnya, manusia tetaplah manusia, dan manusia itu lucu.

Dengan pikirannya, manusia membangun dunianya sendiri. Berbagai keputusan yang berdampak pada kejadian tertentu, pemikiran yang menghasilkan perkataan tertentu, semuanya itu membentuk suatu dunia. Terkadang, ada dua dunia yang bertubrukan dan menjadi satu, meski ada kalanya hanya saling menyerempet.

Manusia selalu punya sesuatu untuk dikatakan tentang orang lain, meski terkadang ia tak mau dikatai oleh orang lain. Beberapa manusia menyimpan perasaannya sedemikian rupa, hingga meledak bagai gunung berapi. Sebagian lain hanya ikut arus besar, tanpa berusaha mencari arus-arus lain yang lebih tenang namun lebih menghanyutkan.

Sebagian manusia masih belum tahu apa yang ingin dia lakukan dengan hidupnya. Beberapa terjebak di masa lalu. Lainnya, sibuk mencari sorotan di panggung duniawi. Beberapa gelintir, terbahak-bahak di belakang panggung, dengan tangan masih memegang tali yang digunakannya untuk mengendalikan boneka-boneka di atas panggung.

Beberapa manusia tertahan oleh pikiran-pikirannya. Beberapa manusia hanya akan berpikir jika sudah pernah melihat wajah Kematian. Yang lainnya, mencoba mensinkronisasikan pikiran dan kata hatinya.

Manusia itu lucu dengan caranya sendiri.

Jul 6, 2013

Ketika Tuhan Bosan...

Pernahkah Ia bosan? Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi pikiranku yang hobi melucu mulai membayangkan hal-hal yang dilakukan-Nya jika Ia pernah merasa bosan.

Ia menembakkan bintang-bintang di setiap galaksi ke seluruh penjuru alam semesta, untuk menampung keinginan tiap makhluk yang mengisi alam semesta. Bintang-bintang itu melewati galaksi lain, mengelilinginya, mendengarkan setiap keinginan yang terucapkan ataupun tidak. Meski mungkin, tidak semua keinginan dapat ia penuhi.

Tuhan punya pemutar musik spesial, sebuah kotak musik yang hanya bisa didengar oleh-Nya. Entah apa lagu kesukaan-Nya, yang pasti, tiap kali Ia merasa bosan, ia membuka kotak musik itu dan mendengarkan alunan melodinya.

Apakah Tuhan juga membaca buku? Tentu saja. Ia bahkan menulis buku mengenai makhluk-makhluk yang akan mengisi berbagai planet di alam semesta. Ia juga menambahkan nama-nama baru di buku kehidupan, yang halamannya sudah sangat tebal seperti bantal.

Oh, Tuhan juga punya bioskop pribadi. Kehidupan semua makhluk di alam semesta adalah koleksi film yang dimiliki-Nya. Tak satupun kejadian terlewatkan oleh-Nya. Setiap hela napas, helai rambut dan daun yang jatuh, setiap sel yang bertambah, Dia tahu.

Bila sudah bosan menonton film, Tuhan berjalan ke halaman belakang sorga yang berpemandangan indah. Jurang yang memisahkan sorga dan neraka adalah pemandangan halaman belakang sorga. Di sorga tidak ada gunung berapi, sehingga Tuhan biasanya duduk di halaman belakang, melihat gunung berapi neraka dari kejauhan. Entah apa yang dipikirkan Tuhan bila Ia sedang duduk di halaman belakang.

Lagi-lagi, bila Tuhan bosan, Ia mulai bernyanyi. Ya, Tuhan pasti bisa bernyanyi. Nyanyian-Nya lebih merdu dari kicau burung terindah. Bila Ia mulai bernyanyi, seluruh penghuni sorga diam sejenak, mendengarkan nada-nada yang tak ada di tangga nada manapun. Dan, biasanya seluruh penghuni sorga akan mulai menari, berpasangan atau berkelompok, mengiringi nyanyian Tuhan. Ketika Tuhan sudah selesai bernyanyi dan membuka jendela istana-Nya, seluruh penghuni sorga segera berhenti menari, lalu kembali mengerjakan tugas masing-masing.

Apa lagi yang akan dilakukan Tuhan bila ia bosan? Entahlah, aku pun tidak tahu. Aku juga tidak tahu apabila Tuhan pernah bosan. Maksudku, mengurus alam semesta tidak selalu menyenangkan, bukan?
Mungkin, Tuhan terlalu mencintai pekerjaan-Nya, sehingga tidak punya waktu untuk merasa bosan.

Apr 19, 2013

Tentang Manusia

Setiap calon manusia memiliki sekian persen kemungkinan untuk tidak menjadi manusia.

Dan tidak semua manusia dapat hidup selayaknya manusia, oleh karena manusia yang lain.

Manusia menghilang, menghilangkan, kehilangan, dan pada akhirnya hilang.

Kapankah manusia menjadi manusia? Sampai kapankah kemanusiaan ada pada diri manusia?

Konstruktor dunia sibuk menumpulkan kemanusiaan manusia. Yang lemah terkikis habis, yang bertahan mencoba melawan.

Siapa yang cukup berani mengkonstruksi dunia baru, dengan atmosfir dan gaya gravitasi yang cukup bagi manusia untuk hidup?

Nov 26, 2012

Persembunyian

Kita semua adalah tukang bangunan dan tukang penghancur. Kita mampu membangun tembok pertahanan yang tebal dan kuat. Tak ada seorangpun yang sanggup menghancurkannya, kecuali kita sendiri. Atau orang itu memang ahli dalam menghancurkan tembok yang kita buat.

Aku bersembunyi di balik tembok yang telah kubangun selama bertahun-tahun. Batu demi batu, aku menciptakan persembunyian ini. Aku selalu bersembunyi di sini ketika aku merasa tak ada lagi tempat bersembunyi bagiku.

Kupikir segalanya sudah aman. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara hantaman palu yang memekakkan telinga. Aku panik. Persembunyianku telah terbongkar.

Aku tak mampu memanjat keluar dari sana. Tembok yang kubangun telah terlalu tinggi untuk kupanjat, dan bila aku mencoba, aku bisa mati terjatuh dari ketinggian yang tak terhitung lagi.

Suara hantaman terdengar semakin keras, dan ketika batu terakhir lepas dan ada lubang besar menganga di persembunyianku, aku hanya bisa berdiri mematung. Bayangan orang yang menghancurkan persembunyianku tampak samar di belakang cahaya yang menyilaukan.

Tapi aku tak perlu bertanya untuk tahu.

Kamu. Orang yang tak seharusnya kuberitahu tentang persembunyian ini. Ketika aku menghilang dari hadapanmu, kamu tahu di mana harus mencariku, dan membawaku pergi. Mungkin aku harus mencari tempat lain untuk bersembunyi, entah kapan.