Jun 4, 2012

19

Hari keempat di bulan keenam. Tepat 19 tahun lalu.
Aku membayangkan wajah bahagia kedua orangtuaku, membayangkan diriku sendiri yang masih sangat kecil dan belum dapat melihat indahnya dunia. Tangisanku yang memecah keheningan entah tiap berapa jam sekali pastilah membuat Ibuku lelah, namun dengan sabar beliau menenangkanku hingga aku kembali tertidur, tanpa pernah mengingat mengapa aku menangis.

Ah, aku sangat merindukan kedua orangtuaku.


Hari keempat di bulan keenam, 19 tahun kemudian.
Aku berada ratusan kilometer dari rumah, berusaha mencari tahu untuk apa aku berada di dunia ini dengan menyerap ilmu yang diberikan oleh dosen-dosenku, dan mempelajari kemampuan bertahan hidup di tengah kehidupan kota besar yang keras. Sedikit demi sedikit, mata dan pikiranku semakin terbuka.

Satu hal yang aku pahami: Dunia memang indah, namun manusia yang membuatnya terlihat jelek.

Aku memang bukan malaikat. Kelemahan-kelemahanku masih membuat orang di sekitarku mengerutkan alis, dan aku tak ingin membuat alis mereka menyatu karena aku terus-menerus bertingkah seperti orang lemah. Namun aku juga tak ingin menjadi orang yang terlalu kuat dan berubah menjadi penindas.

Aku ingin tetap menjadi diriku, yang masih percaya bahwa malaikat penjaga dan parallel universe itu ada.

Selamat menjalani tahun ke 19-mu, diriku.

No comments:

Post a Comment