Skripsi. Satu kata yang bisa membuat hati tiap mahasiswa tingkat akhir mencelos. Entah itu karena revisi yang belum selesai, dosen pembimbing yang susah ditemui, atau karena niat yang susah untuk dicari.
Dan, untuk kasus gue, anak kalimat ketiga adalah jawabannya.
Mungkin emang bener, skripsi itu susah-susah gampang. Susah ketika niat yang diperlukan untuk mengerjakan bab demi bab tiba-tiba menguap tiap kali kata 'skripsi' terucap (SEMPAT-SEMPATNYA BIKIN RHYME!). Terutama bagi orang yang isi pikirannya berantakan kayak gue. Yang lebih mementingkan nulis posting ini ketimbang ngebaca ulang buku representasinya Stuart Hall. Yang lebih mikirin rencana traveling berikutnya ketimbang menyelesaikan bab 2. Yang lebih mikirin masa depan ketimbang menghidupi masa sekarang. Yang prioritasnya berantakan, lebih tepatnya.
Entah karena dominasi otak kanan gue atau gue yang terlalu malas untuk memulai (mungkin ini yang lebih tepat), gue hampir selalu mengerjakan tugas dan kewajiban gue dalam hitungan jam menuju deadline. Gue kebanyakan menghabiskan waktu untuk browsing hal-hal yang sebenarnya-penting-tapi-masih-bisa-ditunda; kayak beasiswa S2, harga tiket pesawat ke negara mana pun yang terlintas di pikiran gue, membaca dan membeli buku (yes, I've found my passion in reading again, at the wrong time), belum lagi hasrat traveling yang--untungnya--sudah terpuaskan 2 minggu lalu; which means, skripsi gue masih belom kesentuh sampai sekarang.
Jika gue masih berniat mengejar sidang bulan Desember, maka idealnya gue mulai menggali penelitian gue dari awal bulan ini. Tapi, 2 minggu 'liburan' masih belum cukup meningkatkan motivasi gue. Malahan motivasi gue untuk menulis hal-hal lain--terutama traveling--yang semakin meningkat. Sementara penelitian gue masih sedangkal parit di pinggir kolam renang anak-anak.
I'm so doomed, aren't I?
...
Satu-satunya yang bikin gue terpecut untuk mulai skripsian hanyalah ingatan akan orangtua gue, terutama Bapak, yang bekerja jauh-jauh di pedalaman Kalimantan demi anaknya yang bandel ini supaya lulus. Tapi, gue butuh lebih dari sekadar dipecut. Disambar petir dari Mjölnir-nya Thor, nah, itu baru pas untuk membangkitkan niat skripsi gue yang mati suri karena kalah dari niat menulis posting ini.
Baiklah, curhatnya sekian dulu. Kali ini, panggilan buku Stuart Hall akan gue tanggapi dengan senang hati. Semoga seluruh mahasiswa tingkat akhir yang senasib seperjuangan bisa segera meluluskan diri!
Iya ya,,!! Nasibku juga sama, sedang nyelesain Skripsi,,,!! Semangat...!!
ReplyDeleteFollow juga blog saya ya :
www.cahayapena.com