Bilakah dia tahu, apa yang t'lah terjadi? Semenjak hari itu, hati ini miliknya.
Sepenggal lirik lagu Kahitna itu benar-benar mewakili perasaanku. Sebulan telah berlalu sejak pertama kali aku melihatnya. Selama itu pula aku telah berhasil mengetahui sebagian sisi dari dirinya, meski tidak semuanya, tentu.
Aku rasa, sepertinya dia mulai menyadari maksudku. Atau tidak.
Segalanya terlanjur terjadi. Sifat ingin tahuku yang luar biasa (mungkin) membuatnya risih dan (semakin) menjauh dariku. Seolah dibangunkan dengan paksa dari tidur panjang dengan mimpi yang begitu indah, aku dipaksa menarik diri darinya untuk sementara.
Setelah 4 hari berturut-turut, akhirnya aku kembali melihat dirinya. Dia masih sama tampannya seperti hari-hari kemarin. Aku tak sanggup melepaskan pandangku, mesku hatiku menangis, seolah dipaksa menelan obat pahit. Rasa itu masih menyihirku, meski aku--dengan sedikit paksaan--mulai dibawa kembali pada kenyataan.
Aku terlanjur tenggelam, dan kembali ke daratan seolah menyusahkanku untuk bernapas. Rasanya aku ingin terus tenggelam dan tidak pernah kembali. Perasaan itulah yang terus memenuhi otakku yang telah sesak oleh pikiran-pikiran lain yang mencoba memenangkan fokusku.
Betapapun beratnya, aku masih menyimpan sebuah harapan kecil. Suatu saat nanti, dia akan tahu dan mengerti bagaimana perasaanku yang sebenarnya, dan membalasnya sama seperti apa yang kurasa.
Andai dia tahu...
No comments:
Post a Comment