Showing posts with label Perasaan. Show all posts
Showing posts with label Perasaan. Show all posts

Jun 8, 2012

Surat Kecil Untukmu

Kepada kamu yang baru saja mengalami mimpi buruk,
Tenanglah, mungkin Cupid sedang iseng, dan kamu sedang rindu padaku, sehingga kamu menjadi begitu khawatir karena mimpi itu. Jangan tidur larut malam lagi ya.

Kamu tahu? Ketika kamu tadi mengatakan, "Aku mimpi ngeliat kamu jalan sama orang lain," dan menceritakan sisanya sambil menggenggam tanganku seolah kamu tak ingin berpisah denganku malam itu, aku benar-benar tak bisa menahan perasaanku. Ketakutanmu terhadap kehilanganku membuatku begitu tersentuh. Belum lagi ketika kamu bersandar di bahuku dan aku membelai lembut kepalamu. Rasanya aku ingin menghentikan waktu, memeluk dan menenangkanmu hingga rasa khawatirmu lenyap.

Aku bisa merasakan buncahan kasih sayang di hatiku, menunggu untuk kusampaikan padamu dengan caraku.

Kekhawatiranmu membuatku tersadar, bahwa hubungan kita masih akan menempuh jalan yang sangat panjang, dan tidak selamanya jalan itu akan selalu mulus. Untuk itu, aku tak akan lelah untuk mengingatkanmu bahwa aku sayang kamu.

Selelah apapun kamu, sesibuk apapun kamu, sepending apapun bbm ke kamu, semenyebalkan apapun semester-semester berikutnya yang akan kita lalui, selalu ingat hal ini: aku sayang kamu.

P.S.: Ucapkan ketiga kata itu sambil berbisik, jangan lupa tersenyum, and seize the day! :)

May 12, 2012

Sebuah Awal

Mau nggak kamu jadi pacarku?
Baru beberapa jam yang lalu aku mendengarkan kalimat itu terlontar dari mulutnya, yang kini menjadi kekasihku.

Aku ingat menatap matanya lekat-lekat, kemudian berpaling, terdiam sejenak, hingga dia menginterupsi keheningan. Seolah dia sudah mengetahui jawaban yang akan aku lontarkan. Tak sabaran. Persis sepertiku.

Satu kata yang akan mengakhiri seluruh kelelahan oleh misi pencarian ini. Satu kata lagi, dan aku akan memasuki sebuah awal yang baru.

Tersenyum, aku pun menganggukkan "iya"-ku.

Sebuah pelukan yang mengalirkan kehangatan di sekujur tubuhku mengawali hubungan kami. Petualangan apa yang akan kami hadapi, kuserahkan pada Penguasa semesta.

Titik Akhir?

Tiba-tiba saja hari-hari yang aku jalani tak lagi terasa begitu melelahkan. Tugas-tugas yang terus berdatangan bagai pecutan cambuk membuat aku nyaris lupa bagaimana rasanya pergi nge-date. Yeah, you saw it right. I finally had a date. :))

Dua minggu yang terasa lebih menyenangkan. Obrolan kecil dengan nada suara yang begitu lembut--meski aku tiba-tiba terbahak-bahak--mengenai apa saja yang terlintas di pikiran kami masing-masing. Kejutan-kejutan kecil saat dia menyanyikan lembut lagu-lagu lama yang diputar dari smartphone-ku. Kejutan yang cukup besar ketika dia meladeni obrolan seputar mobil.

Hari ini tepat dua minggu sejak chat pertamanya di bbm, dan kurang dari 12 jam lagi, kami akan membicarakan sesuatu yang lebih serius daripada biasanya. Entah apa yang akan kami bicarakan nanti. Sudah banyak rahasia yang terungkap selama kami menjalani dua minggu penuh petualangan dan godaan dari teman-teman.

Semoga akan ada cukup waktu. Aku hampir sampai ke titik akhir, garis finish-ku. Akankah dia menunggu di sana?

Apr 30, 2012

Extraordinary Love

Semua berawal dari RT-an tweet tentang The Avengers yang berujung pada sebuah percakapan kecil, dan akhirnya kamu menekan tombol follow di akunku. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan baru muncul di kotak DM-ku, tepat ketika aku baru saja memikirkan hal yang kamu tulis di DM pertamamu.

Percakapan demi percakapan pun mulai mengalir. Setiap hari kita mengobrol hingga aku tertidur. Lama kelamaan, kita bertatap muka lewat skype. Sudah tak terhitung berapa banyak hal yang kita obrolkan, seolah-olah kita telah saling mengenal selama bertahun-tahun, bukannya 3 hari.

Entah bagaimana mulainya, namun semakin lama, hatiku tergelitik oleh sebuah perasaan lain. Setiap pagi, aku selalu merasa lebih bersemangat ketika kamu menyapaku terlebih dulu, mengirimiku e-mail, dan membuatku tersipu ketika membaca timeline-mu.

Tiba-tiba saja, aku sudah jatuh cinta lagi, kali ini dengan cara yang tak biasa.


Apr 13, 2012

Konspirasi?

Sepertinya Tuhan dan Cupid sedang berdiskusi seru di surga. Mereka memutuskan untuk sedikit membuka pintu duniaku agar aku bisa keluar dan bertemu dengan pribadi-pribadi baru.

Tiba-tiba saja, aku sudah bertemu banyak cowok-cowok hebat.

Setelah begitu lamanya aku 'salah jalan', dengan mendekati cowok yang kusukai lebih dulu, akhirnya aku memutuskan untuk menahan diri dan menganggap bahwa suatu saat, ketika jodohku sudah capek bersembunyi, ia akan keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiriku secara tiba-tiba namun pada waktu yang tepat.

Belakangan ini, keputusanku seolah hendak digoyahkan. Pertama, cowok yang sangat aktif di kegiatan rohani. Kedua, cowok berhati tulus. Ketiga, cowok yang (hampir) mapan. Keempat, cowok yang mempelajari budaya Indonesia di negara tempatnya tinggal.

Dengan situasiku yang sudah cukup lama menahan rindu untuk kembali merasa bangga karena berhasil menarik perhatian lawan jenisku, tentu aku harus lebih menahan diriku lagi agar tak bertindak gegabah, seperti yang sudah dua kali kulakukan. Tidak, tidak, aku harus fokus pada tujuanku sendiri. Jika suatu saat memang salah satu dari mereka itu jodohku, aku yakin mereka bisa menemukan jalannya sendiri menuju bagian hatiku yang terdalam.

Aku benar-benar egois ya?

Namun, bila tidak, toh Tuhan dan Cupid sudah sangat banyak mewarnai hidupku dengan pribadi-pribadi baru. Pribadi-pribadi baru yang hebat setiap harinya akan semakin memacuku untuk menemukan satu tujuan di dalam hidupku, yang sudah terlalu sering terucap, namun belum pernah menggalinya lebih dalam.

Untuk sementara, urusan hati ini kuletakkan di atas meja rapat, sementara aku menenggelamkan diri dalam kompetisi akademik. Biar Tuhan dan Cupid yang mengurusnya. Yang harus kulakukan lebih dulu, akan kulakukan yang terbaik.

Mar 20, 2012

Doin' Just Fine?

Getting along very well, without you in my life...

Sederet lirik lagu Boyz II Men itu kuputar berulang kali di kepalaku. Ritme otakku dalam berpikir juga mulai melambat seperti lagu itu. Tapi aku tak peduli.

Hatiku serasa dihantam dengan batu seukuran kepalan tangan Hulk ketika melihat pernyataan itu. Kepalaku dipenuhi pernyataan-pernyataan kejam bahwa aku lagi-lagi kalah dengan seorang perempuan lain yang berhasil mencuri hatinya lebih dulu, dan menertawakan hatiku yang mulai menangis lagi, membuat luka lamanya kembali terbuka.

Aku tiba-tiba pusing, tak sanggup berkata-kata, bahkan untuk melanjutkan tugas presentasiku yang harus selesai dalam waktu kurang dari 4 jam lagi pun aku tak sanggup. Tanganku mulai gemetar di atas keyboard, mengetikkan kalimat yang terlintas di kepalaku dengan cepat, dan menekan tombol Enter.

Biarlah, aku tak peduli lagi.

Kali ini, aku ingin tenggelam dalam kesedihanku. Kali ini saja.

Setelah beberapa jam berlalu, pertahananku benar-benar runtuh. Aku bisa merasakan asinnya air mata di sudut mulutku, berusaha menahannya sekuat tenaga, namun rasa sakit yang pilu membuatku semakin terisak, seolah dengan itu aku bisa sedikit mengurangi penderitaan yang sudah dua kali dialami hatiku.

Biarlah kali ini aku menangis bersama hatiku yang sudah dengan tabah menerima berbagai dera karena otakku kerap kali mengirimkan sinyal-sinyal yang membuatnya berdebar terlalu keras pada orang yang salah.

Orang yang salah. Perlahan kesadaranku kembali. Sudah dua kali aku menyerahkan sekeping bagian hatiku pada orang yang salah, yang dua kali membuatku terluka. Satu kali aku bisa menyembuhkan luka itu dengan cepat karena aku mendapat keberuntungan yang tak disangka-sangka, namun aku tak pernah menyangka akan bertemu seseorang yang akan menghancurkan hatiku untuk kedua kalinya.

Aku tak peduli soal sandiwara. Sandiwara apapun itu, aku tak ingin memercayainya. Sudah cukup banyak kesulitan yang ditimbulkan oleh sebuah sandiwara, dan aku tak ingin menambahnya lagi.

Aku sadar, aku harus cepat bangun, berdiri, dan memulai perjalananku kembali dari awal. Aku janji, perjalanan kali ini tak akan sama seperti yang sebelumnya.

I'll be doing just fine.

Jan 29, 2012

Nostalgia

Tiba-tiba saja, aku sudah mengetikkan 'Simple Plan Jakarta' di tab search YouTube dan melihat deretan video konser mereka dua minggu lalu. Suara Pierre Bouvier yang khas segera memenuhi ruangan kamarku yang kecil.

Aku merasa tertarik ke masa lalu. Sebuah kaset Simple Plan yang diberikan seseorang dari masa laluku mendadak memenuhi pikiranku yang seharusnya disesaki oleh teori-teori komunikasi massa.

Aku tak sanggup berpikir jernih. Video demi video terus kuputar. Setelah puas melihat aksi panggung Pierre Bouvier dan kawan-kawan, aku kembali memutar lagu-lagu Simple Plan dari album pertama hingga terakhir. Masa-masa SMP yang diwarnai dengan lagu-lagu mereka membuatku bernostalgia.

Kaset bersampul hitam polos itu kembali memenuhi otakku. Hadiah terakhir darinya sebelum kami berpisah. Aku masih menyimpannya sampai sekarang.

Kepada seseorang yang memberi kaset itu 4 tahun lalu, aku rindu padamu. Bisakah kita bertemu lagi?

Jan 25, 2012

Mencintai Kamu, Boleh?

Pertanyaan retoris, sekaligus pertanyaan yang sangat ingin kuutarakan padamu.

Selama aku menjauhi linikala, aku masih tak bisa menahan diri untuk tidak mengintip linikala-mu, untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja.

Aku tak berani menghubungimu duluan, karena aku tak ingin melihat balasanmu yang dingin, sekadarnya. Aku tak mau segala usahaku untuk memulihkan diri gagal begitu saja.

Mungkin mencintai kamu adalah hal yang boleh kulakukan, tapi apakah kamu akan mencintaiku juga?

Jan 23, 2012

Jatuh Cinta?

Mengapa cinta selalu jatuh? Tak bisakah dia terbang sekali-sekali?

Seharusnya aku tak melemparkan pertanyaan bodoh itu.

Aku sendiri telah jatuh, dan hampir tak mampu bangkit kembali.

Hampir.

Sejujurnya, aku masih mencoba duduk.

Jan 20, 2012

Menyembuhkan Diri

Hari ini, aku menonaktifkan akun Twitterku untuk sementara. Agak sedih rasanya, tapi aku tak ingin membanjiri linikala teman-temanku dengan kalimat menyedihkan yang diakibatkan oleh kacaunya perasaanku.

Ya, aku baru saja kalah oleh patah hati.

Keingintahuanku menghancurkan diriku sendiri. Linikala seseorang yang sangat kusukai membuatku kehilangan harapan akan sebuah kesempatan untuk memasuki pintu hatinya. Semakin aku menyusuri linikalanya ke bawah, aku semakin hancur.

Ini adalah titik di mana aku bahkan tak sanggup berpikir normal dan segalanya terasa seperti angin lalu buatku. Linikalaku semalam membuktikan hal itu.

Kalah sebelum perang? Pengecut menyedihkan? Terserah kalian mau menyebutku apa.

Aku ingin menjauh, bersembunyi, dan menyembuhkan diriku. Berharap Tuhan segera mempertemukanku dengan seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta lebih dalam daripada yang kurasakan padanya sekarang.

(atau, suatu saat dia menyadari bahwa yang mencintainya selama ini adalah aku…)


Dec 8, 2011

Terlanjur


Bilakah dia tahu, apa yang t'lah terjadi? Semenjak hari itu, hati ini miliknya.
Sepenggal lirik lagu Kahitna itu benar-benar mewakili perasaanku. Sebulan telah berlalu sejak pertama kali aku melihatnya. Selama itu pula aku telah berhasil mengetahui sebagian sisi dari dirinya, meski tidak semuanya, tentu. 

Aku rasa, sepertinya dia mulai menyadari maksudku. Atau tidak.

Segalanya terlanjur terjadi. Sifat ingin tahuku yang luar biasa (mungkin) membuatnya risih dan (semakin) menjauh dariku. Seolah dibangunkan dengan paksa dari tidur panjang dengan mimpi yang begitu indah, aku dipaksa menarik diri darinya untuk sementara.

Setelah 4 hari berturut-turut, akhirnya aku kembali melihat dirinya. Dia masih sama tampannya seperti hari-hari kemarin. Aku tak sanggup melepaskan pandangku, mesku hatiku menangis, seolah dipaksa menelan obat pahit. Rasa itu masih menyihirku, meski aku--dengan sedikit paksaan--mulai dibawa kembali pada kenyataan.

Aku terlanjur tenggelam, dan kembali ke daratan seolah menyusahkanku untuk bernapas. Rasanya aku ingin terus tenggelam dan tidak pernah kembali. Perasaan itulah yang terus memenuhi otakku yang telah sesak oleh pikiran-pikiran lain yang mencoba memenangkan fokusku.

Betapapun beratnya, aku masih menyimpan sebuah harapan kecil. Suatu saat nanti, dia akan tahu dan mengerti bagaimana perasaanku yang sebenarnya, dan membalasnya sama seperti apa yang kurasa.
Andai dia tahu...

Nov 10, 2011

Rindu dan Candu



Aku tak pernah menyangka akan merasa rindu pada seseorang dari masa laluku (lagi), apalagi setelah kejadian-kejadian yang kualami akhir-akhir ini. Agak mengesalkan, karena perasaan ini datang dengan tiba-tiba dan langsung menyerang ke pusat bagian otak yang bertuliskan huruf besar-besar 'KENANGAN'.


Aku yakin aku sudah mampu 'berpindah' darinya. Hanya saja, sifat kewanitaanku terkadang bisa begitu berlebihan dengan turut membanjiri ruang di otakku dengan sejuta kenangan yang kudapat dari waktu-waktu yang pernah kuhabiskan bersamanya dulu, di sebuah kota kecil yang juga kurindukan.


Bahkan, tak bisa kupungkiri, di sebuah sudut terpencil di hatiku, aku ingin memeluknya untuk terakhir kali jika aku diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengannya.

Aku teringat orang yang akhir-akhir ini kusebut dalam doaku, menghiasi mimpiku, yang telah mampu membuat ruang di hatiku sedikit diterangi cahaya. Memutarbalikkan duniaku setiap kali aku melihatnya, dan menghentikan detak jantungku sejenak tiap kali mata kami bertemu. Aku masih tersihir dengan tatapannya. Melepaskan tawa melihat tingkah dan candanya. Gemas ketika ia mulai berbicara dengan cara yang menurutku sangat lucu sekali. Seandainya dia tahu…


Perlahan, rindu pun berganti dengan candu. Galau berganti gurau. Aku kembali mampu untuk bangkit, menatap jalan yang terbentang di depanku, dan perlahan tapi pasti, aku melangkah menuju masa depanku. Kamukah? Aku berharap begitu. ;)