Apr 8, 2012

Menulikan Hati

Aku termenung, memikirkan kata-kata yang masih berputar-putar di kepalaku seperti gasing. Lagu berirama lambat yang kuputar berulang-ulang menambah kebisuanku. Duniaku diam, meski dunia di luar sana terus berjalan.

Suara tawa samar-samar di luar kamarku seolah mengejekku. Aku tak menyalahkan mereka yang sedang melanjutkan hidupnya dengan penuh kebahagiaan, sangat berlainan denganku yang berusaha untuk tidak bertindak bodoh karena otakku yang mulai kacau oleh tekanan-tekanan yang membuatku nyaris susah untuk bernapas.

Selanjutnya, yang kutahu, aku sudah menjatuhkan sebagian besar barang-barang di meja belajarku di lantai kamar, dengan rasa asin yang membanjiri sudut mulut dan lidahku. Aku begitu marah, namun aku tak ingin menyakiti perasaan orang-orang yang sedang berbahagia menjalani hidupnya di luar sana, sehingga aku lebih memilih untuk menyakiti perasaanku sendiri. Rasanya lebih mudah untuk melakukan hal itu dibandingkan aku harus menerima tatapan terluka dari teman-temanku ketika aku mulai bersikap emosional dan semua pilihan kataku sangat intimidatif bagi mereka.

Untuk itulah, aku menyakiti hatiku sekali lagi, berharap bisa menulikannya dari kenyataan yang akan lebih melukainya lagi. Lebih baik aku menyakitinya lebih dulu daripada orang lain menyakitinya lebih dalam lagi.

Aku mungkin tidak tuli, tapi aku ingin menulikan hatiku dari kenyataan.

No comments:

Post a Comment