May 12, 2012

Titik Akhir?

Tiba-tiba saja hari-hari yang aku jalani tak lagi terasa begitu melelahkan. Tugas-tugas yang terus berdatangan bagai pecutan cambuk membuat aku nyaris lupa bagaimana rasanya pergi nge-date. Yeah, you saw it right. I finally had a date. :))

Dua minggu yang terasa lebih menyenangkan. Obrolan kecil dengan nada suara yang begitu lembut--meski aku tiba-tiba terbahak-bahak--mengenai apa saja yang terlintas di pikiran kami masing-masing. Kejutan-kejutan kecil saat dia menyanyikan lembut lagu-lagu lama yang diputar dari smartphone-ku. Kejutan yang cukup besar ketika dia meladeni obrolan seputar mobil.

Hari ini tepat dua minggu sejak chat pertamanya di bbm, dan kurang dari 12 jam lagi, kami akan membicarakan sesuatu yang lebih serius daripada biasanya. Entah apa yang akan kami bicarakan nanti. Sudah banyak rahasia yang terungkap selama kami menjalani dua minggu penuh petualangan dan godaan dari teman-teman.

Semoga akan ada cukup waktu. Aku hampir sampai ke titik akhir, garis finish-ku. Akankah dia menunggu di sana?

Apr 30, 2012

Extraordinary Love

Semua berawal dari RT-an tweet tentang The Avengers yang berujung pada sebuah percakapan kecil, dan akhirnya kamu menekan tombol follow di akunku. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan baru muncul di kotak DM-ku, tepat ketika aku baru saja memikirkan hal yang kamu tulis di DM pertamamu.

Percakapan demi percakapan pun mulai mengalir. Setiap hari kita mengobrol hingga aku tertidur. Lama kelamaan, kita bertatap muka lewat skype. Sudah tak terhitung berapa banyak hal yang kita obrolkan, seolah-olah kita telah saling mengenal selama bertahun-tahun, bukannya 3 hari.

Entah bagaimana mulainya, namun semakin lama, hatiku tergelitik oleh sebuah perasaan lain. Setiap pagi, aku selalu merasa lebih bersemangat ketika kamu menyapaku terlebih dulu, mengirimiku e-mail, dan membuatku tersipu ketika membaca timeline-mu.

Tiba-tiba saja, aku sudah jatuh cinta lagi, kali ini dengan cara yang tak biasa.


Apr 17, 2012

'Merapikan Kertas-Kertas'

Banyak sekali yang ingin kulakukan. Entah keinginan-keinginan yang sudah lama kuinginkan ketika aku masih penuh dengan ingin, atau keinginan-keinginan yang muncul karena sesuatu yang benar-benar mempengaruhi hatiku yang masih cukup mudah terbawa arus ini.

Dengan sifatku yang tertarik akan banyak hal-hal baru, tentunya aku akan banyak berkeinginan ini-itu. Namun semuanya masih sebatas ingin. Sisi kekanakanku yang masih ingin bebas dari segala tanggung jawab belum bisa kutaklukkan untuk melaksanakan keinginan-keinginanku itu.

Benar, aku belum berhasil mengalahkan diriku sendiri.

Keinginan yang masih sebatas ingin adalah masalah terbesarku. Tumpukan-tumpukan keinginan kian menggunung menjadi seperti tumpukan kertas di sudut otakku yang seharusnya kugunakan untuk menyerap berbagai teori yang selama ini sudah diberikan dosen-dosenku dengan susah payah. Aku masih terlalu malas (atau dengan pembenaranku selama ini, 'sibuk') dengan hal-hal lain hingga aku lupa 'merapikan' kertas-kertas itu.

Mengapa kertas-kertas? Karena selama kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, kertas adalah barang yang wajib untuk dipegang, terutama ketika ujian menjelang. Rasa-rasanya aku ingin membeli komputer tablet sehingga aku tidak perlu lagi menghabiskan hasil olahan pohon yang semakin sedikit itu. Ha! Satu lagi keinginan yang terucap (atau dalam kasus ini, tertulis).

Dengan waktu yang semakin sempit, aku harus cepat merapikan kertas-kertas yang bertumpuk ini segera, dan menemukan satu kertas yang berisikan keinginan terbesarku, dan meletakkannya 5 cm di depan mataku.

Apr 13, 2012

Konspirasi?

Sepertinya Tuhan dan Cupid sedang berdiskusi seru di surga. Mereka memutuskan untuk sedikit membuka pintu duniaku agar aku bisa keluar dan bertemu dengan pribadi-pribadi baru.

Tiba-tiba saja, aku sudah bertemu banyak cowok-cowok hebat.

Setelah begitu lamanya aku 'salah jalan', dengan mendekati cowok yang kusukai lebih dulu, akhirnya aku memutuskan untuk menahan diri dan menganggap bahwa suatu saat, ketika jodohku sudah capek bersembunyi, ia akan keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiriku secara tiba-tiba namun pada waktu yang tepat.

Belakangan ini, keputusanku seolah hendak digoyahkan. Pertama, cowok yang sangat aktif di kegiatan rohani. Kedua, cowok berhati tulus. Ketiga, cowok yang (hampir) mapan. Keempat, cowok yang mempelajari budaya Indonesia di negara tempatnya tinggal.

Dengan situasiku yang sudah cukup lama menahan rindu untuk kembali merasa bangga karena berhasil menarik perhatian lawan jenisku, tentu aku harus lebih menahan diriku lagi agar tak bertindak gegabah, seperti yang sudah dua kali kulakukan. Tidak, tidak, aku harus fokus pada tujuanku sendiri. Jika suatu saat memang salah satu dari mereka itu jodohku, aku yakin mereka bisa menemukan jalannya sendiri menuju bagian hatiku yang terdalam.

Aku benar-benar egois ya?

Namun, bila tidak, toh Tuhan dan Cupid sudah sangat banyak mewarnai hidupku dengan pribadi-pribadi baru. Pribadi-pribadi baru yang hebat setiap harinya akan semakin memacuku untuk menemukan satu tujuan di dalam hidupku, yang sudah terlalu sering terucap, namun belum pernah menggalinya lebih dalam.

Untuk sementara, urusan hati ini kuletakkan di atas meja rapat, sementara aku menenggelamkan diri dalam kompetisi akademik. Biar Tuhan dan Cupid yang mengurusnya. Yang harus kulakukan lebih dulu, akan kulakukan yang terbaik.

Apr 8, 2012

Menulikan Hati

Aku termenung, memikirkan kata-kata yang masih berputar-putar di kepalaku seperti gasing. Lagu berirama lambat yang kuputar berulang-ulang menambah kebisuanku. Duniaku diam, meski dunia di luar sana terus berjalan.

Suara tawa samar-samar di luar kamarku seolah mengejekku. Aku tak menyalahkan mereka yang sedang melanjutkan hidupnya dengan penuh kebahagiaan, sangat berlainan denganku yang berusaha untuk tidak bertindak bodoh karena otakku yang mulai kacau oleh tekanan-tekanan yang membuatku nyaris susah untuk bernapas.

Selanjutnya, yang kutahu, aku sudah menjatuhkan sebagian besar barang-barang di meja belajarku di lantai kamar, dengan rasa asin yang membanjiri sudut mulut dan lidahku. Aku begitu marah, namun aku tak ingin menyakiti perasaan orang-orang yang sedang berbahagia menjalani hidupnya di luar sana, sehingga aku lebih memilih untuk menyakiti perasaanku sendiri. Rasanya lebih mudah untuk melakukan hal itu dibandingkan aku harus menerima tatapan terluka dari teman-temanku ketika aku mulai bersikap emosional dan semua pilihan kataku sangat intimidatif bagi mereka.

Untuk itulah, aku menyakiti hatiku sekali lagi, berharap bisa menulikannya dari kenyataan yang akan lebih melukainya lagi. Lebih baik aku menyakitinya lebih dulu daripada orang lain menyakitinya lebih dalam lagi.

Aku mungkin tidak tuli, tapi aku ingin menulikan hatiku dari kenyataan.

Mar 20, 2012

Doin' Just Fine?

Getting along very well, without you in my life...

Sederet lirik lagu Boyz II Men itu kuputar berulang kali di kepalaku. Ritme otakku dalam berpikir juga mulai melambat seperti lagu itu. Tapi aku tak peduli.

Hatiku serasa dihantam dengan batu seukuran kepalan tangan Hulk ketika melihat pernyataan itu. Kepalaku dipenuhi pernyataan-pernyataan kejam bahwa aku lagi-lagi kalah dengan seorang perempuan lain yang berhasil mencuri hatinya lebih dulu, dan menertawakan hatiku yang mulai menangis lagi, membuat luka lamanya kembali terbuka.

Aku tiba-tiba pusing, tak sanggup berkata-kata, bahkan untuk melanjutkan tugas presentasiku yang harus selesai dalam waktu kurang dari 4 jam lagi pun aku tak sanggup. Tanganku mulai gemetar di atas keyboard, mengetikkan kalimat yang terlintas di kepalaku dengan cepat, dan menekan tombol Enter.

Biarlah, aku tak peduli lagi.

Kali ini, aku ingin tenggelam dalam kesedihanku. Kali ini saja.

Setelah beberapa jam berlalu, pertahananku benar-benar runtuh. Aku bisa merasakan asinnya air mata di sudut mulutku, berusaha menahannya sekuat tenaga, namun rasa sakit yang pilu membuatku semakin terisak, seolah dengan itu aku bisa sedikit mengurangi penderitaan yang sudah dua kali dialami hatiku.

Biarlah kali ini aku menangis bersama hatiku yang sudah dengan tabah menerima berbagai dera karena otakku kerap kali mengirimkan sinyal-sinyal yang membuatnya berdebar terlalu keras pada orang yang salah.

Orang yang salah. Perlahan kesadaranku kembali. Sudah dua kali aku menyerahkan sekeping bagian hatiku pada orang yang salah, yang dua kali membuatku terluka. Satu kali aku bisa menyembuhkan luka itu dengan cepat karena aku mendapat keberuntungan yang tak disangka-sangka, namun aku tak pernah menyangka akan bertemu seseorang yang akan menghancurkan hatiku untuk kedua kalinya.

Aku tak peduli soal sandiwara. Sandiwara apapun itu, aku tak ingin memercayainya. Sudah cukup banyak kesulitan yang ditimbulkan oleh sebuah sandiwara, dan aku tak ingin menambahnya lagi.

Aku sadar, aku harus cepat bangun, berdiri, dan memulai perjalananku kembali dari awal. Aku janji, perjalanan kali ini tak akan sama seperti yang sebelumnya.

I'll be doing just fine.

Mar 11, 2012

3 Days In Singapore with @KartuFB

"Ah, jadi seperti ini rasanya berada di belahan dunia lain."

Kalimat itulah yang terlintas pertama kali di benak gue saat akhirnya gue berada di Singapura.

Kaget dan senang adalah ekspresi paling wajar yang gue keluarkan ketika gue terpilih sebagai pemenang kuis High Quality Jomblo (tsaaahh!) dari Kartu Facebook. Bahkan sahabat gue sampai berkomentar seperti ini di twitter:

Errr, terima kasih banyak, Man. X))
Maka liburan singkat gue di Singapura pun DIMULAI!

Hari pertama


Sekeluarnya dari bandara, rombongan kami pun berkeliling kota dan makan di restoran Kublai Khan. Di restoran ini, ada koki yang beratraksi memasak daging dan sayur di sebuah wajan raksasa dalam ruangan kaca besar sehingga kita semua bisa melihat. Seperti melihat lumba-lumba dalam tangki raksasa di Sea World gitu deh. *dikepruk kokinya*

Setelah kenyang, kami melanjutkan berkeliling kota. Karena gue duduk di tempat duduk favorit yakni di dekat jendela, maka jadilah gue lebih banyak melihat pemandangan kota Singapura yang didominasi gedung-gedung bertingkat. Bus-bus dan taksi yang ditempeli stiker-stiker iklan selalu sukses membuat gue tertawa dalam hati, meski gue juga berpikir, kapan transportasi umum di Indonesia bisa sukses membuat orang-orang tak ingin memiliki kendaraan pribadi. *lho kok malah jadi serius*

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju landmark kota Singapura, patung singa berekor ikan. Masa ke Singapura nggak datang ke Merlion Park sih? :p Jadilah kami berfoto ria di sana, berpose mainstream atau yang anti-mainstream seperti 'minum' dari air yang keluar dari mulut Merlion.

Waktunya belanja! Kami menuju toko cokelat Vis Konsep. Untunglah gue berhasil mencegah air liur gue mengalir deras seperti air yang keluar dari mulut patung Merlion, bisa-bisa gue kena denda. Di sana gue membeli 2 kotak cokelat Merlion rasa tiramisu dan 3 batang dark chocolate yang kemasannya bergambar dolar Singapura dengan rasa berbeda-beda. Yang membuat gue makin senang, di toko ini kita bisa membayar menggunakan Rupiah! Tapi pastikan kita membayarnya tidak terlalu berlebih, karena mereka tidak memberi kembalian. Gue sengaja membayar dengan Rupiah supaya nggak langsung menggunakan uang saku yang diberi sama Kartu FB, hihihi…

Puas mencium aroma cokelat yang menerbitkan air liur, kami pun meluncur ke Bugis Street. Di sinilah gue menghabiskan sedikit uang saku gue dengan membeli mug, kartu pos untuk keponakan gue yang hobi mengoleksi barang yang sudah mulai langka itu, dan kaos I ♥ SG. "3 for 10 dollar laaah!" adalah logat Singlish favorit gue, yang nantinya menjadi tren di antara para pemenang kuis High Quality Jomblo Kartu FB. Setelah susah payah menahan godaan sepatu-sepatu lucu seharga 10 dolar dan passport holder bermotif bendera Inggris seharga 6 dolar, gue berhasil belanja dengan total 20 dolar, karena gue berniat menghabiskan sisanya di Universal Studios. :))

Setelah makan malam, dengan kelelahan yang amat sangat, kami pun menuju ke hotel Cultural yang terletak di dekat Mustafa Centre.



Hari Kedua


Hampir setengah hari kedua ini dihabiskan di Pulau Sentosa. Tujuan utama, tentulah Universal Studios Singapore!


Tiba di Universal Studios, rombongan kami berfoto bersama, kemudian masing-masing berpisah dengan kelompoknya untuk menikmati wahana-wahana di sana. Transformers: The Ride adalah yang pertama kali gue coba. Damn, wahana itu bener-bener bikin ketagihan! Efek 3D yang luar biasa dan membuat jantung gue hampir copot ketika roller coaster bergerak seolah jatuh dari gedung tinggi dan kemudian ditangkap oleh Bumblebee, robot kesayangan gue. Oh, dan gue seolah bisa menyentuh peluru raksasa yang ditembakkan Megatron ke arah gue. Optimus Prime? Tetap tampan seperti biasa.

Dengan adrenalin yang mulai bergejolak, gue pun mencoba wahana ekstrim kedua, Battlestar Galactica, si roller coaster kembar. Iya, kembar! Gue memilih track Cylon yang berwarna biru. Singkat cerita, setelah satu menit yang memusingkan karena track Cylon adalah inverted track sehingga beberapa kali gue bergantung terbalik di udara, akhirnya gue melanjutkan petualangan dengan naik roller coaster (lagi) Revenge Of The Mummy. Rasanya? Sebaiknya kalian coba sendiri. :p

Satu-satunya wahana yang cukup 'tenang' adalah pertunjukan Shrek 4D di istana Far Far Away. Melihat aksi Shrek dan kawan-kawan yang lucu dan menggemaskan (sayang di sini nggak ada Puss) ditambah dengan kejutan-kejutan kecil yang membuat efek 4D semakin terasa.

Keluar dari Far Far Away, kita menghabiskan waktu berfoto dengan karakter-karakter dari film seperti Alex dan King Julien dari Madagascar, Po the kung fu panda, Puss in Boots, Marilyn Monroe, Dr. Frankenstein, dan Charlie Chaplin. Ada Woody Woodpecker juga! :)))




Oh ya, ada satu lagi yang nggak boleh lupa. Pertunjukan Waterworld! Pertunjukan yang diadaptasi dari film dengan judul yang sama itu bener-bener membuat gue takjub. Aksi para pemain profesional yang tampan di pertunjukan itu bener-bener membuat gue seolah menonton kembali film Waterworld namun dalam sebuah stadion kecil dengan kolam raksasa di tengah-tengahnya.

Setelah puas (sebenernya sih belum) berpetualang di Universal Studios (mau kesini lagi!), kami pun menuju pinggir pantai Pulau Sentosa untuk menyaksikan pertunjukan Songs Of The Sea. Dengan tiket seharga 10 dolar, Songs Of The Sea was definitely breathtaking! Air mancur warna-warni dan efek sinar laser yang ditembakkan ke air mancur-air mancur raksasa bener-bener bikin seluruh badan gue merinding! Pertunjukan ini bener-bener nggak boleh dilewatkan kalau suatu saat ke sini lagi!


Hari Ketiga


Tibalah hari yang paling tak diinginkan setelah semua petualangan kemarin. Singapura seolah nggak menginginkan kami pulang terlalu cepat dengan membuat hujan turun pagi itu. Well, life must go on. Setelah mengucapkan terima kasih kepada tour guide kami yang setia menemani selama di Singapura, kami pun kembali ke Indonesia untuk kembali menjalani rutinitas masing-masing.
Terima kasih banyak Kartu Facebook untuk liburan 3 hari yang menyenangkan dan teman-teman baru yang seru! Hope we'll meet again soon! :D