Oct 21, 2012

Kontak Ponsel dan Satu Nama


Aku menyusuri setiap nama di kontak ponselku, mencoba merapikan setiap nama dengan nama sebenarnya, bukan label yang kubuat agar bisa membedakan mereka dengan kontak lain yang memiliki nama sama. Fungsi kolom perusahaan kumanfaatkan semaksimal mungkin untuk merapikan setiap kontak. Menghapus kontak yang tidak lagi menghubungiku lebih karena nomor ponselku yang telah berubah, dan mengira-ngira haruskah aku menanyakan kembali nomor ponsel kontak yang cukup penting.


Sampai akhirnya, pandanganku terpaku pada satu nama di kontak ponselku.

Satu nama. Sebuah nomor ponsel yang sangat mudah diingat bertahun-tahun lalu. Hari itu. Tahun itu.

Hatiku kembali mencelos. Dunia sekelilingku tiba-tiba mengabur dengan kenangan-kenangan yang berputar sangat cepat dalam pikiranku. Aku sempat merasa bahwa aku akan terjatuh, namun kesadaranku kembali, dan aku bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Dan 'bersikap seolah tak terjadi apa-apa' adalah salah satu keahlianku. Dunia kembali berjalan seperti biasa.

Oct 4, 2012

Menumbuhkan Sayap

Aku adalah calon kupu-kupu. Saat ini, aku sedang berada di dalam sebuah selubung putih. Aku tidak makan apapun, tidak melihat cahaya matahari, tidak pergi bermain bersama yang lainnya. Aku berada dalam dunia kecilku sendiri.

Menumbuhkan sayap itu tidak mudah, kau tahu. Bayangkan bila tiba-tiba sepasang sayap yang keras keluar dari balik punggungmu yang kenyal, bukankah itu menyakitkan? Tidakkah kau ingin tetap bergerak lambat dan menggigit dedaunan, tanpa harus terperangkap dalam serat-serat kasar dan menunggu dalam diam?

Tapi bila aku tidak menumbuhkan sayap, maka aku akan tetap menjadi sang ulat kecil, yang bergerak lambat ketika teman-temanku telah mengelilingi separo dunia dengan sayap mereka yang lebar. Untuk itulah aku menarik diri, memintal serat untuk membangun selubungku, dan berdiam diri sementara.

Dan ketika saatnya tiba, aku akan bisa mengembangkan sayapku sendiri, mengepakkannya, dan menjelajahi dunia.

Sep 12, 2012

Menuju Jejak

Hari-hariku sedang tak stabil, seolah tiap hari aku melakukan segalanya sambil meniti tali tambang di atas ketinggian ribuan kaki.

Perasaanku seperti permukaan air yang segera beriak dengan sentuhan jari.


Siapa yang dapat begitu saja melupakan rasa sakit? Dan siapa yang tak dapat menahan haru ketika mendengar bait demi bait lagu yang meluruhkan luka?

Irama melakukan putaran bertempo adagio, memberi kesempatan bagi otak dan mata untuk berkolaborasi dalam sebuah proyeksi hati.

Tenggorokanku kembali tercekat oleh kepedihan. Butir demi butir air kembali terjatuh dari pelupuk mataku yang mendung.

Aku kembali membuang kelebihan air mata agar bebanku menjadi ringan. Getaran tali terasa semakin perlahan.

Ada kalanya aku menikmati angin segar yang berhembus di wajahku, namun genangan air mata yang licin kadang membuatku terpeleset dan tergantung di atas tali.

Sang irama mendekati puncak tariannya. Tanganku perlahan menggapai.

Butir-butir air mata yang tersisa berjatuhan dari tali seraya kakiku melangkah. Ada yang memberitahuku, hanya dengan melangkah maju, aku akan mendapat kembali jejakku.

Terima kasih sudah sabar menunggu, Bumi. Tak lama lagi, aku akan melanjutkan jejak-jejakku yang sempat terhenti.

Sep 9, 2012

Curhat Kecil

Kadang, ketika lidah gue terlalu kelu untuk bercerita, atau gue takut kata-kata gue berhenti mengalir karena emosi, gue lebih memilih menulis. Barisan huruf yang tetap diam di sana, teratur, tapi menjelaskan segalanya tentang bagaimana perasaan gue sesungguhnya. Tentang apapun.

Seperti sekarang, saat pikiran gue begitu berkecamuk dan berakibat pada perasaan senang yang sedikit berlebihan namun di saat yang sama, gue yakin bisa menangis terisak-isak. Entahlah, gue belum pernah benar-benar memeriksa kejiwaan gue.

Apakah gue sakit jiwa? Tentu saja tidak. Mungkin gue hanya perlu 'diselami', seperti Robin Williams yang dengan lihai membuat Matt Damon membuka diri dalam film Good Will Hunting. Gue ingat suka menyelam ke dasar kolam renang waktu kecil, dan mungkin itu alasannya mengapa gue tergolong sulit untuk dikenal lebih jauh. Alasan gue susah membuka diri? Mungkin karena dunia terlalu kejam dan cenderung mematahkan semangat orang-orang seperti gue, yang selalu terlihat cheerful. Terlihat.

Sepertinya gue masih harus lebih banyak 'menyelami' diri gue sendiri sebelum 'menyelami' orang-orang di luar sana, yang akan gue temui, atau sudah gue temui namun belum benar-benar gue 'selami'. Setiap orang luar biasa, tapi nggak semua orang tahu dan menyadarinya.

Aug 11, 2012

Kembali

Besok adalah hari Minggu keempatku di rumah. Harus kuakui, waktu berjalan sangat cepat ketika liburan.
Aku sangat menikmati liburanku. Kembali menjadi seorang anak adalah keinginan yang teramat besar ketika aku berada di perantauan. Aku mengerjakan segala pekerjaan yang sudah lama tak kulakukan--membersihkan rumah, menyetir, memasak, menyetrika, mengurus tanaman, mencuci mobil, bersepeda, dan baru-baru ini aku belajar mengendarai motor (meski aku akan tetap memilih naik mobil). Setelah mengerjakan segala kewajibanku, Ibuku selalu memanjakan lidahku dengan berbagai masakan rumah yang selalu menjadi kekuatan sekaligus bukti cinta terbesar seorang ibu.
Mungkin postingan kali ini terlihat sederhana, namun aku bersyukur karena akhirnya dapat meluangkan waktu untuk menulis secara sederhana setelah banyak menghabiskan waktu liburanku dengan…meliburkan diri. Hahaha!

Jun 8, 2012

Surat Kecil Untukmu

Kepada kamu yang baru saja mengalami mimpi buruk,
Tenanglah, mungkin Cupid sedang iseng, dan kamu sedang rindu padaku, sehingga kamu menjadi begitu khawatir karena mimpi itu. Jangan tidur larut malam lagi ya.

Kamu tahu? Ketika kamu tadi mengatakan, "Aku mimpi ngeliat kamu jalan sama orang lain," dan menceritakan sisanya sambil menggenggam tanganku seolah kamu tak ingin berpisah denganku malam itu, aku benar-benar tak bisa menahan perasaanku. Ketakutanmu terhadap kehilanganku membuatku begitu tersentuh. Belum lagi ketika kamu bersandar di bahuku dan aku membelai lembut kepalamu. Rasanya aku ingin menghentikan waktu, memeluk dan menenangkanmu hingga rasa khawatirmu lenyap.

Aku bisa merasakan buncahan kasih sayang di hatiku, menunggu untuk kusampaikan padamu dengan caraku.

Kekhawatiranmu membuatku tersadar, bahwa hubungan kita masih akan menempuh jalan yang sangat panjang, dan tidak selamanya jalan itu akan selalu mulus. Untuk itu, aku tak akan lelah untuk mengingatkanmu bahwa aku sayang kamu.

Selelah apapun kamu, sesibuk apapun kamu, sepending apapun bbm ke kamu, semenyebalkan apapun semester-semester berikutnya yang akan kita lalui, selalu ingat hal ini: aku sayang kamu.

P.S.: Ucapkan ketiga kata itu sambil berbisik, jangan lupa tersenyum, and seize the day! :)

Jun 4, 2012

19

Hari keempat di bulan keenam. Tepat 19 tahun lalu.
Aku membayangkan wajah bahagia kedua orangtuaku, membayangkan diriku sendiri yang masih sangat kecil dan belum dapat melihat indahnya dunia. Tangisanku yang memecah keheningan entah tiap berapa jam sekali pastilah membuat Ibuku lelah, namun dengan sabar beliau menenangkanku hingga aku kembali tertidur, tanpa pernah mengingat mengapa aku menangis.

Ah, aku sangat merindukan kedua orangtuaku.


Hari keempat di bulan keenam, 19 tahun kemudian.
Aku berada ratusan kilometer dari rumah, berusaha mencari tahu untuk apa aku berada di dunia ini dengan menyerap ilmu yang diberikan oleh dosen-dosenku, dan mempelajari kemampuan bertahan hidup di tengah kehidupan kota besar yang keras. Sedikit demi sedikit, mata dan pikiranku semakin terbuka.

Satu hal yang aku pahami: Dunia memang indah, namun manusia yang membuatnya terlihat jelek.

Aku memang bukan malaikat. Kelemahan-kelemahanku masih membuat orang di sekitarku mengerutkan alis, dan aku tak ingin membuat alis mereka menyatu karena aku terus-menerus bertingkah seperti orang lemah. Namun aku juga tak ingin menjadi orang yang terlalu kuat dan berubah menjadi penindas.

Aku ingin tetap menjadi diriku, yang masih percaya bahwa malaikat penjaga dan parallel universe itu ada.

Selamat menjalani tahun ke 19-mu, diriku.