Feb 20, 2015

Ke Mana Saya Ingin Pergi Bersama Lomba Blog Pegipegi?

Pertanyaan di atas adalah ungkapan terhadap kesulitan menentukan destinasi yang paling ingin saya kunjungi di Indonesia. Jika boleh saya katakan, saya ingin mengunjungi semua tempat-tempat indah di Indonesia yang sudah terabadikan dan tersebarluaskan di media massa. Namun, karena saya hanya bisa mendatangi satu destinasi dalam satu waktu, maka saya pun harus memilih.

Dari total 17.000 pulau dan sekian banyak destinasi pariwisata Indonesia yang sudah diketahui, masih banyak lagi destinasi yang perlu dieksplorasi agar pesonanya dapat dipromosikan secara lebih luas. Saya pun lebih memilih destinasi yang berlokasi cukup terpencil dan menyimpan banyak potensi promosi pariwisata. Maka dari itu, tanpa mengurangi rasa kagum dan bangga dengan destinasi pariwisata Indonesia yang lain, saya pun menjatuhkan pilihan pada Kepulauan Anambas, sebagai destinasi yang paling ingin saya kunjungi.

Saya mengetahui keberadaan Kepulauan Anambas pertama kali ketika membaca sebuah majalah traveling, yang sayangnya sekarang terselip entah di mana. Pernah juga iseng mencari tiket pesawat promo ke sana, namun sampai sekarang, rencana masih berupa rencana. Begitu saya melihat lomba menulis di blog ini, saya berpikir, kenapa tidak mencoba menulis tentang Anambas meski saya belum pernah ke sana? Siapa tahu nanti akan diajak betulan.

Alasan utama saya ingin mengunjungi Kepulauan Anambas: pariwisata mereka yang kurang dipromosikan di negeri sendiri. Faktor utamanya adalah lokasi yang cukup terpencil, karena berada di wilayah perbatasan. Contoh paling nyata adalah sang pacar. Ketika mendengar ambisi kecil saya untuk traveling ke Anambas, dia bertanya begini,

"Anambas itu yang punya Malaysia, ya?"

Ya ampun. Gemas sekali saya ketika mendengarnya.

Lalu, saya pun dengan sabar menjelaskan kepadanya bahwa Anambas masih berada di bawah naungan Indonesia, meski lokasinya yang tergolong terpencil, yakni di perairan Natuna dan Laut Tiongkok Selatan, dan berada di antara Singapura dan pulau Natuna. Lokasinya yang terpencil membuat keindahan alamnya masih cukup terjaga, karena sebagian besar dari 238 gugusan pulau tersebut tidak berpenghuni. Saya juga memberikan satu trivia lain, yaitu pada tahun 2012, CNN menobatkan Kepulauan Anambas di urutan pertama dalam daftar lima kepulauan tropis terbaik di Asia. Mengesankan, bukan?

Jika alasan saya dirasa masih kurang, video ini dapat memberikan sedikit gambaran mengenai pesona Anambas. Tentunya saya akan menceritakan lebih banyak lagi, apabila nanti dipilih untuk pergi ke Anambas bersama @pegi_pegi dan ko Alex @aMrazing.



Keinginan saya untuk mengunjungi Anambas tak hanya karena ingin langsung merasakan keindahan alamnya dengan seluruh panca indera, namun juga didasari keinginan untuk menjadi turis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Hal tersebut sesuai dengan prinsip ecotourism, yang didefinisikan oleh The International Ecotourism Society sebagai bentuk turisme yang mengunjungi wilayah alami, menjaga ketahanan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal, sekaligus melibatkan interpretasi nyata dan edukasi. Berdasarkan hal itu, inilah beberapa misi kecil ecotourism saya apabila nanti benar-benar diajak untuk menjelajahi Anambas:
- Mengurangi potensi sampah yang masuk ke Anambas, dengan cara membawa botol minum sendiri. Bukan botol plastik, tentunya, tapi tumbler yang bisa dipakai berkali-kali.
- Memberikan penyuluhan tentang cara menyaring air laut sehingga bisa digunakan sebagai air minum. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya warga lokal yang kesulitan air bersih. (sumber)
- Memberikan dampak positif langsung secara finansial, dengan makan makanan khas Anambas, membeli kerajinan khas Anambas, yakni kain cual, tenunan asli Pulau Siantan dan gasing.

Last but not the least, saya berharap tulisan ini dapat membawa saya melihat langsung keindahan Anambas, agar saya bisa melaksanakan misi saya dengan semangat ecotourism, dan menceritakan lebih banyak lagi mengenai Anambas.

Cheers!


Lomba BLOG-2


Referensi:
- http://indonesia.travel/en/destination/1077/the-anambas-islands
- http://edition.cnn.com/2012/04/13/sport/south-east-asia-sailing/index.html
- http://www.ecotourism.org/what-is-ecotourism

Feb 15, 2015

Sebuah Awal

Hampir dua tahun blog ini nggak di-update, gue lebih memilih sebuah notebook dan aplikasi Day One di hp untuk menulis, tanpa dipublikasikan di Internet. Kemudian setelah notebook itu hampir penuh, gue membeli notebook yang baru. Sudah lebih dari 200 entry--baik itu selesai atau tidak--tertulis di Day One, selama hampir 2 tahun. Nggak cukup banyak memang, tapi gue sedikit puas karena berhasil melatih diri untuk rajin menulis lagi.

Tapi gue masih belum cukup berani untuk kembali nge-blog.

Entah itu karena beban akademis maupun pikiran gue yang sering gue "silent" karena terlalu liar dan gelap (menurut gue). Facebook yang biasa jadi tempat gue memberikan sedikit dari pikiran gue, sekarang jadi tempat sharing dari facebook page lain atau cross-post dari Instagram/Path.

Entah itu karena gue yang nggak berani ambil resiko dan bertanggung jawab akan apa yang gue tulis. Padahal tulisan gue nggak mengancam keamanan nasional. Kebanyakan review film (yang gue belum publish di Letterboxd), dan pikiran yang timbul setelah kepikiran tentang satu hal. Mostly just some thought-provoking things.

Yeah, I'm afraid of my own freaking thoughts.

Lantas apa yang bisa gue lakukan? Satu-satunya orang yang paling bisa memotivasi diri gue sendiri, ya gue sendiri. Nobody's perfect, and I am not, either. Gue akan melatih diri untuk lebih rajin menulis (hingga selesai) dan meng-update blog ini, because I have two other English blogs and they demand to be updated as well.

That's all for now. Cheers!

Oct 30, 2013

S.O.S. (Skripsi Oh Skripsi)

Skripsi. Satu kata yang bisa membuat hati tiap mahasiswa tingkat akhir mencelos. Entah itu karena revisi yang belum selesai, dosen pembimbing yang susah ditemui, atau karena niat yang susah untuk dicari.

Dan, untuk kasus gue, anak kalimat ketiga adalah jawabannya.

Mungkin emang bener, skripsi itu susah-susah gampang. Susah ketika niat yang diperlukan untuk mengerjakan bab demi bab tiba-tiba menguap tiap kali kata 'skripsi' terucap (SEMPAT-SEMPATNYA BIKIN RHYME!). Terutama bagi orang yang isi pikirannya berantakan kayak gue. Yang lebih mementingkan nulis posting ini ketimbang ngebaca ulang buku representasinya Stuart Hall. Yang lebih mikirin rencana traveling berikutnya ketimbang menyelesaikan bab 2. Yang lebih mikirin masa depan ketimbang menghidupi masa sekarang. Yang prioritasnya berantakan, lebih tepatnya.

Entah karena dominasi otak kanan gue atau gue yang terlalu malas untuk memulai (mungkin ini yang lebih tepat), gue hampir selalu mengerjakan tugas dan kewajiban gue dalam hitungan jam menuju deadline. Gue kebanyakan menghabiskan waktu untuk browsing hal-hal yang sebenarnya-penting-tapi-masih-bisa-ditunda; kayak beasiswa S2, harga tiket pesawat ke negara mana pun yang terlintas di pikiran gue, membaca dan membeli buku (yes, I've found my passion in reading again, at the wrong time), belum lagi hasrat traveling yang--untungnya--sudah terpuaskan 2 minggu lalu; which means, skripsi gue masih belom kesentuh sampai sekarang.

Jika gue masih berniat mengejar sidang bulan Desember, maka idealnya gue mulai menggali penelitian gue dari awal bulan ini. Tapi, 2 minggu 'liburan' masih belum cukup meningkatkan motivasi gue. Malahan motivasi gue untuk menulis hal-hal lain--terutama traveling--yang semakin meningkat. Sementara penelitian gue masih sedangkal parit di pinggir kolam renang anak-anak.

I'm so doomed, aren't I?

...

Satu-satunya yang bikin gue terpecut untuk mulai skripsian hanyalah ingatan akan orangtua gue, terutama Bapak, yang bekerja jauh-jauh di pedalaman Kalimantan demi anaknya yang bandel ini supaya lulus. Tapi, gue butuh lebih dari sekadar dipecut. Disambar petir dari Mjölnir-nya Thor, nah, itu baru pas untuk membangkitkan niat skripsi gue yang mati suri karena kalah dari niat menulis posting ini.

Baiklah, curhatnya sekian dulu. Kali ini, panggilan buku Stuart Hall akan gue tanggapi dengan senang hati. Semoga seluruh mahasiswa tingkat akhir yang senasib seperjuangan bisa segera meluluskan diri!

Jul 8, 2013

Lucu?

Manusia itu lucu, dan entah mengapa Tuhan bisa menciptakan makhluk selucu manusia. Apakah karena Tuhan juga lucu? Ataukah Tuhan butuh hiburan setelah capek mengurus alam semesta?

Entahlah.

Kembali lagi. Manusia itu lucu. Sesedih apapun kisah hidupnya, manusia tetaplah manusia, dan manusia itu lucu.

Dengan pikirannya, manusia membangun dunianya sendiri. Berbagai keputusan yang berdampak pada kejadian tertentu, pemikiran yang menghasilkan perkataan tertentu, semuanya itu membentuk suatu dunia. Terkadang, ada dua dunia yang bertubrukan dan menjadi satu, meski ada kalanya hanya saling menyerempet.

Manusia selalu punya sesuatu untuk dikatakan tentang orang lain, meski terkadang ia tak mau dikatai oleh orang lain. Beberapa manusia menyimpan perasaannya sedemikian rupa, hingga meledak bagai gunung berapi. Sebagian lain hanya ikut arus besar, tanpa berusaha mencari arus-arus lain yang lebih tenang namun lebih menghanyutkan.

Sebagian manusia masih belum tahu apa yang ingin dia lakukan dengan hidupnya. Beberapa terjebak di masa lalu. Lainnya, sibuk mencari sorotan di panggung duniawi. Beberapa gelintir, terbahak-bahak di belakang panggung, dengan tangan masih memegang tali yang digunakannya untuk mengendalikan boneka-boneka di atas panggung.

Beberapa manusia tertahan oleh pikiran-pikirannya. Beberapa manusia hanya akan berpikir jika sudah pernah melihat wajah Kematian. Yang lainnya, mencoba mensinkronisasikan pikiran dan kata hatinya.

Manusia itu lucu dengan caranya sendiri.

Jul 6, 2013

Ketika Tuhan Bosan...

Pernahkah Ia bosan? Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi pikiranku yang hobi melucu mulai membayangkan hal-hal yang dilakukan-Nya jika Ia pernah merasa bosan.

Ia menembakkan bintang-bintang di setiap galaksi ke seluruh penjuru alam semesta, untuk menampung keinginan tiap makhluk yang mengisi alam semesta. Bintang-bintang itu melewati galaksi lain, mengelilinginya, mendengarkan setiap keinginan yang terucapkan ataupun tidak. Meski mungkin, tidak semua keinginan dapat ia penuhi.

Tuhan punya pemutar musik spesial, sebuah kotak musik yang hanya bisa didengar oleh-Nya. Entah apa lagu kesukaan-Nya, yang pasti, tiap kali Ia merasa bosan, ia membuka kotak musik itu dan mendengarkan alunan melodinya.

Apakah Tuhan juga membaca buku? Tentu saja. Ia bahkan menulis buku mengenai makhluk-makhluk yang akan mengisi berbagai planet di alam semesta. Ia juga menambahkan nama-nama baru di buku kehidupan, yang halamannya sudah sangat tebal seperti bantal.

Oh, Tuhan juga punya bioskop pribadi. Kehidupan semua makhluk di alam semesta adalah koleksi film yang dimiliki-Nya. Tak satupun kejadian terlewatkan oleh-Nya. Setiap hela napas, helai rambut dan daun yang jatuh, setiap sel yang bertambah, Dia tahu.

Bila sudah bosan menonton film, Tuhan berjalan ke halaman belakang sorga yang berpemandangan indah. Jurang yang memisahkan sorga dan neraka adalah pemandangan halaman belakang sorga. Di sorga tidak ada gunung berapi, sehingga Tuhan biasanya duduk di halaman belakang, melihat gunung berapi neraka dari kejauhan. Entah apa yang dipikirkan Tuhan bila Ia sedang duduk di halaman belakang.

Lagi-lagi, bila Tuhan bosan, Ia mulai bernyanyi. Ya, Tuhan pasti bisa bernyanyi. Nyanyian-Nya lebih merdu dari kicau burung terindah. Bila Ia mulai bernyanyi, seluruh penghuni sorga diam sejenak, mendengarkan nada-nada yang tak ada di tangga nada manapun. Dan, biasanya seluruh penghuni sorga akan mulai menari, berpasangan atau berkelompok, mengiringi nyanyian Tuhan. Ketika Tuhan sudah selesai bernyanyi dan membuka jendela istana-Nya, seluruh penghuni sorga segera berhenti menari, lalu kembali mengerjakan tugas masing-masing.

Apa lagi yang akan dilakukan Tuhan bila ia bosan? Entahlah, aku pun tidak tahu. Aku juga tidak tahu apabila Tuhan pernah bosan. Maksudku, mengurus alam semesta tidak selalu menyenangkan, bukan?
Mungkin, Tuhan terlalu mencintai pekerjaan-Nya, sehingga tidak punya waktu untuk merasa bosan.

Apr 19, 2013

Tentang Manusia

Setiap calon manusia memiliki sekian persen kemungkinan untuk tidak menjadi manusia.

Dan tidak semua manusia dapat hidup selayaknya manusia, oleh karena manusia yang lain.

Manusia menghilang, menghilangkan, kehilangan, dan pada akhirnya hilang.

Kapankah manusia menjadi manusia? Sampai kapankah kemanusiaan ada pada diri manusia?

Konstruktor dunia sibuk menumpulkan kemanusiaan manusia. Yang lemah terkikis habis, yang bertahan mencoba melawan.

Siapa yang cukup berani mengkonstruksi dunia baru, dengan atmosfir dan gaya gravitasi yang cukup bagi manusia untuk hidup?

Nov 26, 2012

Persembunyian

Kita semua adalah tukang bangunan dan tukang penghancur. Kita mampu membangun tembok pertahanan yang tebal dan kuat. Tak ada seorangpun yang sanggup menghancurkannya, kecuali kita sendiri. Atau orang itu memang ahli dalam menghancurkan tembok yang kita buat.

Aku bersembunyi di balik tembok yang telah kubangun selama bertahun-tahun. Batu demi batu, aku menciptakan persembunyian ini. Aku selalu bersembunyi di sini ketika aku merasa tak ada lagi tempat bersembunyi bagiku.

Kupikir segalanya sudah aman. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara hantaman palu yang memekakkan telinga. Aku panik. Persembunyianku telah terbongkar.

Aku tak mampu memanjat keluar dari sana. Tembok yang kubangun telah terlalu tinggi untuk kupanjat, dan bila aku mencoba, aku bisa mati terjatuh dari ketinggian yang tak terhitung lagi.

Suara hantaman terdengar semakin keras, dan ketika batu terakhir lepas dan ada lubang besar menganga di persembunyianku, aku hanya bisa berdiri mematung. Bayangan orang yang menghancurkan persembunyianku tampak samar di belakang cahaya yang menyilaukan.

Tapi aku tak perlu bertanya untuk tahu.

Kamu. Orang yang tak seharusnya kuberitahu tentang persembunyian ini. Ketika aku menghilang dari hadapanmu, kamu tahu di mana harus mencariku, dan membawaku pergi. Mungkin aku harus mencari tempat lain untuk bersembunyi, entah kapan.

Nov 17, 2012

(Terlihat) Sendiri

Aku berteman dengan bayanganku. Kami berbincang tiap hari, mendiskusikan apa saja. Masa lalu, masa kini, masa depan, kesempatan yang terbuang, kenangan yang tersimpan, hal-hal remeh yang tak akan mampu dimengerti orang-orang dewasa.

Bayangan tak menyukai masa lalu, karena ia sering disalahkan orang-orang karena bayangan mereka adalah masa lalu, bukan bayangan mereka sendiri. Ia lebih suka diajak bicara--mungkin berfilsafat--tentang mengapa ia ada, mengapa ia tak dapat ditangkap, dan mengapa ia gelap.

Oh, kini ia menatapku kesal. Tampaknya aku menyinggungnya, meski aku tak bohong dengan mengatakan bahwa ia gelap.

Ups.

Baiklah, baiklah. Aku tak ingin membuatnya marah. Bisa-bisa aku kehilangan tempat bersembunyi. Siapa yang tak ingin bersembunyi sesekali untuk memperkeras volume suara hati?

Jadi, apakah aku benar-benar sendiri?

Nov 5, 2012

Kekuatan Kecil Yang Besar

Ada sebuah kekuatan yang memastikan dunia tetap berjalan seperti saat ini.
Jika yang kau maksud kekuatan ilahi, pikir lagi.

Menguasai dunia dimulai dari menguasai pikiran orang-orang di dalamnya.

Oct 22, 2012

Cecaran Pikiran #1

Siapa suruh lo bertindak bodoh? Siapa suruh lo nggak berpikir lebih panjang?

Sekarang nyesel? Siapa lagi yang mau lo salahin? Diri lo? Nggak kasihan sama dia?

Kali ini, kebodohan lo udah melewati batas. Nggak seharusnya lo ngebuang kesempatan itu cuma gara-gara keteledoran lo. Kalo emang lo nggak tau, jangan gengsi. Jangan nganggep diri lo tau segalanya. Jangan malu dibilang bodoh. Mending malu sekarang daripada malu karena ketahuan pura-pura tau.

Lo itu masih terlalu cuek terhadap hal-hal penting dan malah mentingin hal-hal nggak penting? Lo taunya ngehindar ketika masalah dateng, dan ngarepin orang-orang nggak tau. Lo itu masih terlalu pengecut. Lo itu pinter, tapi masih bodoh. Lo masih belom punya karakter. Pribadi lo masih lemah. Pikiran lo masih kurang dalam. Lo sendiri masih kurang sigap dalam menghadapi masalah. Entah apa yang terjadi sama diri lo.

Gue tau kalo lo itu gue, dan gue nggak mau kita terus-terusan berantem karena sifat yang saling berlawanan. Makanya gue ngerasin lo supaya lo itu lebih berani. Mana lo yang percaya diri? Mana lo yang nggak pernah takut sama apa yang orang lain bilang? Mana lo yang cerdik? Mana lo yang dulu?

Gue harap sebelum tahun ini berakhir lo bisa sedikit lebih pintar daripada sekarang. Lo boleh muda, tapi apa lo mau terus-terusan dianggap remeh karena itu? Gimana lo mau dikenal sama dunia kalo lo sendiri masih belom bisa ngenalin diri lo sendiri dan ngembangin sisi-sisi positif yang lo punya?

Lo harus bisa nemuin jati diri lo sebelum lo meninggalkan usia belasan, dan itu nggak lama lagi. Bisa lo ngelakuin itu? Bisa lo nentuin target dan mastiin itu tercapai? Apa rencana lo selanjutnya? Apa yang mau lo lakuin di dunia bobrok ini?

Bahkan gue lebih pinter mencecar lo dibandingkan lo mencecar narasumber. Lo takut kena masalah? Buat apa lo hidup kalo lo nggak mau kena masalah?

Lo nggak boleh gini terus, Deb. Lo harus berubah. Nggak ada waktu lagi. Sebelum segalanya terlambat dan tau-tau lo dihadapkan sama satu masalah yang menuntut lo bertanggung jawab atas pilihan lo, lebih baik lo mulai menentukan sikap mulai sekarang. Inget, nggak punya sikap itu juga sikap. Nothing is something.

Maafin diri lo. Buang semua penyesalan, dan berubah. Belajar dari kesalahan lo. Jangan pernah ngandelin kekuatan lo sendiri. Gue yakin lo pasti bisa nemuin karakter lo sendiri, identitas lo, jati diri lo, substansi keberadaan lo di dunia. Gue nggak bakal berhenti mencecar lo sebelum lo menemukan permata di dalam diri lo. Lo butuh pemicu untuk mengeluarkan segala bakat yang udah hampir membusuk karena lo pendam terus-menerus. Siapa lagi yang bisa mencecar diri lo kalo bukan gue?

Oct 21, 2012

Kontak Ponsel dan Satu Nama


Aku menyusuri setiap nama di kontak ponselku, mencoba merapikan setiap nama dengan nama sebenarnya, bukan label yang kubuat agar bisa membedakan mereka dengan kontak lain yang memiliki nama sama. Fungsi kolom perusahaan kumanfaatkan semaksimal mungkin untuk merapikan setiap kontak. Menghapus kontak yang tidak lagi menghubungiku lebih karena nomor ponselku yang telah berubah, dan mengira-ngira haruskah aku menanyakan kembali nomor ponsel kontak yang cukup penting.


Sampai akhirnya, pandanganku terpaku pada satu nama di kontak ponselku.

Satu nama. Sebuah nomor ponsel yang sangat mudah diingat bertahun-tahun lalu. Hari itu. Tahun itu.

Hatiku kembali mencelos. Dunia sekelilingku tiba-tiba mengabur dengan kenangan-kenangan yang berputar sangat cepat dalam pikiranku. Aku sempat merasa bahwa aku akan terjatuh, namun kesadaranku kembali, dan aku bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Dan 'bersikap seolah tak terjadi apa-apa' adalah salah satu keahlianku. Dunia kembali berjalan seperti biasa.

Oct 4, 2012

Menumbuhkan Sayap

Aku adalah calon kupu-kupu. Saat ini, aku sedang berada di dalam sebuah selubung putih. Aku tidak makan apapun, tidak melihat cahaya matahari, tidak pergi bermain bersama yang lainnya. Aku berada dalam dunia kecilku sendiri.

Menumbuhkan sayap itu tidak mudah, kau tahu. Bayangkan bila tiba-tiba sepasang sayap yang keras keluar dari balik punggungmu yang kenyal, bukankah itu menyakitkan? Tidakkah kau ingin tetap bergerak lambat dan menggigit dedaunan, tanpa harus terperangkap dalam serat-serat kasar dan menunggu dalam diam?

Tapi bila aku tidak menumbuhkan sayap, maka aku akan tetap menjadi sang ulat kecil, yang bergerak lambat ketika teman-temanku telah mengelilingi separo dunia dengan sayap mereka yang lebar. Untuk itulah aku menarik diri, memintal serat untuk membangun selubungku, dan berdiam diri sementara.

Dan ketika saatnya tiba, aku akan bisa mengembangkan sayapku sendiri, mengepakkannya, dan menjelajahi dunia.

Sep 12, 2012

Menuju Jejak

Hari-hariku sedang tak stabil, seolah tiap hari aku melakukan segalanya sambil meniti tali tambang di atas ketinggian ribuan kaki.

Perasaanku seperti permukaan air yang segera beriak dengan sentuhan jari.


Siapa yang dapat begitu saja melupakan rasa sakit? Dan siapa yang tak dapat menahan haru ketika mendengar bait demi bait lagu yang meluruhkan luka?

Irama melakukan putaran bertempo adagio, memberi kesempatan bagi otak dan mata untuk berkolaborasi dalam sebuah proyeksi hati.

Tenggorokanku kembali tercekat oleh kepedihan. Butir demi butir air kembali terjatuh dari pelupuk mataku yang mendung.

Aku kembali membuang kelebihan air mata agar bebanku menjadi ringan. Getaran tali terasa semakin perlahan.

Ada kalanya aku menikmati angin segar yang berhembus di wajahku, namun genangan air mata yang licin kadang membuatku terpeleset dan tergantung di atas tali.

Sang irama mendekati puncak tariannya. Tanganku perlahan menggapai.

Butir-butir air mata yang tersisa berjatuhan dari tali seraya kakiku melangkah. Ada yang memberitahuku, hanya dengan melangkah maju, aku akan mendapat kembali jejakku.

Terima kasih sudah sabar menunggu, Bumi. Tak lama lagi, aku akan melanjutkan jejak-jejakku yang sempat terhenti.

Sep 9, 2012

Curhat Kecil

Kadang, ketika lidah gue terlalu kelu untuk bercerita, atau gue takut kata-kata gue berhenti mengalir karena emosi, gue lebih memilih menulis. Barisan huruf yang tetap diam di sana, teratur, tapi menjelaskan segalanya tentang bagaimana perasaan gue sesungguhnya. Tentang apapun.

Seperti sekarang, saat pikiran gue begitu berkecamuk dan berakibat pada perasaan senang yang sedikit berlebihan namun di saat yang sama, gue yakin bisa menangis terisak-isak. Entahlah, gue belum pernah benar-benar memeriksa kejiwaan gue.

Apakah gue sakit jiwa? Tentu saja tidak. Mungkin gue hanya perlu 'diselami', seperti Robin Williams yang dengan lihai membuat Matt Damon membuka diri dalam film Good Will Hunting. Gue ingat suka menyelam ke dasar kolam renang waktu kecil, dan mungkin itu alasannya mengapa gue tergolong sulit untuk dikenal lebih jauh. Alasan gue susah membuka diri? Mungkin karena dunia terlalu kejam dan cenderung mematahkan semangat orang-orang seperti gue, yang selalu terlihat cheerful. Terlihat.

Sepertinya gue masih harus lebih banyak 'menyelami' diri gue sendiri sebelum 'menyelami' orang-orang di luar sana, yang akan gue temui, atau sudah gue temui namun belum benar-benar gue 'selami'. Setiap orang luar biasa, tapi nggak semua orang tahu dan menyadarinya.

Aug 11, 2012

Kembali

Besok adalah hari Minggu keempatku di rumah. Harus kuakui, waktu berjalan sangat cepat ketika liburan.
Aku sangat menikmati liburanku. Kembali menjadi seorang anak adalah keinginan yang teramat besar ketika aku berada di perantauan. Aku mengerjakan segala pekerjaan yang sudah lama tak kulakukan--membersihkan rumah, menyetir, memasak, menyetrika, mengurus tanaman, mencuci mobil, bersepeda, dan baru-baru ini aku belajar mengendarai motor (meski aku akan tetap memilih naik mobil). Setelah mengerjakan segala kewajibanku, Ibuku selalu memanjakan lidahku dengan berbagai masakan rumah yang selalu menjadi kekuatan sekaligus bukti cinta terbesar seorang ibu.
Mungkin postingan kali ini terlihat sederhana, namun aku bersyukur karena akhirnya dapat meluangkan waktu untuk menulis secara sederhana setelah banyak menghabiskan waktu liburanku dengan…meliburkan diri. Hahaha!

Jun 8, 2012

Surat Kecil Untukmu

Kepada kamu yang baru saja mengalami mimpi buruk,
Tenanglah, mungkin Cupid sedang iseng, dan kamu sedang rindu padaku, sehingga kamu menjadi begitu khawatir karena mimpi itu. Jangan tidur larut malam lagi ya.

Kamu tahu? Ketika kamu tadi mengatakan, "Aku mimpi ngeliat kamu jalan sama orang lain," dan menceritakan sisanya sambil menggenggam tanganku seolah kamu tak ingin berpisah denganku malam itu, aku benar-benar tak bisa menahan perasaanku. Ketakutanmu terhadap kehilanganku membuatku begitu tersentuh. Belum lagi ketika kamu bersandar di bahuku dan aku membelai lembut kepalamu. Rasanya aku ingin menghentikan waktu, memeluk dan menenangkanmu hingga rasa khawatirmu lenyap.

Aku bisa merasakan buncahan kasih sayang di hatiku, menunggu untuk kusampaikan padamu dengan caraku.

Kekhawatiranmu membuatku tersadar, bahwa hubungan kita masih akan menempuh jalan yang sangat panjang, dan tidak selamanya jalan itu akan selalu mulus. Untuk itu, aku tak akan lelah untuk mengingatkanmu bahwa aku sayang kamu.

Selelah apapun kamu, sesibuk apapun kamu, sepending apapun bbm ke kamu, semenyebalkan apapun semester-semester berikutnya yang akan kita lalui, selalu ingat hal ini: aku sayang kamu.

P.S.: Ucapkan ketiga kata itu sambil berbisik, jangan lupa tersenyum, and seize the day! :)

Jun 4, 2012

19

Hari keempat di bulan keenam. Tepat 19 tahun lalu.
Aku membayangkan wajah bahagia kedua orangtuaku, membayangkan diriku sendiri yang masih sangat kecil dan belum dapat melihat indahnya dunia. Tangisanku yang memecah keheningan entah tiap berapa jam sekali pastilah membuat Ibuku lelah, namun dengan sabar beliau menenangkanku hingga aku kembali tertidur, tanpa pernah mengingat mengapa aku menangis.

Ah, aku sangat merindukan kedua orangtuaku.


Hari keempat di bulan keenam, 19 tahun kemudian.
Aku berada ratusan kilometer dari rumah, berusaha mencari tahu untuk apa aku berada di dunia ini dengan menyerap ilmu yang diberikan oleh dosen-dosenku, dan mempelajari kemampuan bertahan hidup di tengah kehidupan kota besar yang keras. Sedikit demi sedikit, mata dan pikiranku semakin terbuka.

Satu hal yang aku pahami: Dunia memang indah, namun manusia yang membuatnya terlihat jelek.

Aku memang bukan malaikat. Kelemahan-kelemahanku masih membuat orang di sekitarku mengerutkan alis, dan aku tak ingin membuat alis mereka menyatu karena aku terus-menerus bertingkah seperti orang lemah. Namun aku juga tak ingin menjadi orang yang terlalu kuat dan berubah menjadi penindas.

Aku ingin tetap menjadi diriku, yang masih percaya bahwa malaikat penjaga dan parallel universe itu ada.

Selamat menjalani tahun ke 19-mu, diriku.

May 20, 2012

Mengikuti Prosedur

Jadian. Sebuah kata modern yang biasanya diawali dengan pertanyaan "Maukah kamu menjadi pacarku?", dan dijawab dengan anggukan kecil atau "Iya".
Baru tiga hari lalu, aku memperhatikan timeline dan melihat salah seorang seleb di twitter yang memberi pendapatnya tentang sebuah hubungan yang diawali dengan pertanyaan seperti di atas. Dia nggak setuju dengan sebuah hubungan yang diawali dengan 'penembakan'. Aku sempat tersenyum kecil melihat tweet-tweet-nya, teringat hubunganku sekarang yang diawali dengan 'penembakan' namun dengan cara yang tidak biasa.

Setelah semua petualangan yang kami alami selama dua minggu, tiba-tiba sebuah pertanyaan tercetus begitu saja, "Kapan mau ngomong [soal jadian]?" Jadilah kami menunggu hari yang tepat untuk ngobrol berdua, namun di hari kita jadian, nggak ada sesuatu yang penting yang diobrolin. Kami sibuk bercanda dan tertawa mendengar lelucon masing-masing hingga pertanyaan 'sakral' itu belum juga terucap. Sampai pada akhirnya kita saling mendekat, lalu dia membisikkan pertanyaan itu sambil menatapku lekat-lekat, tanpa berkedip. Kalian tentu sudah tahu cerita selanjutnya, aku sudah menceritakan hal itu seminggu lalu.

Hingga sekarang, aku selalu tersenyum-senyum ketika mengingat proses menuju status 'in a relationship', kalau kata sebuah social media. Proses pendekatan kami sangat penuh kejutan dengan banyaknya hal-hal yang sama-sama kami sukai sehingga membuat kami cepat akrab. Kalimat klise, "Meski aku baru kenal kamu, tapi seperti udah lama kenal sama kamu" itu benar-benar terjadi. Tanpa disadari, dan tanpa alasan yang benar-benar jelas, hati kami sudah terpaut satu sama lain.

Tapi, sekali lagi, kami hidup di lingkungan sosial yang membutuhkan kejelasan mengenai hubungan antara dua orang. Jadilah kami mengikuti prosedur itu. Dia memintaku menjadi pacarnya, aku mengiyakan, kemudian kami saling mengucapkan cinta. Dan sebuah hubungan baru bernama pacaran pun dimulai.

Kalaupun pada akhirnya kami menganggap hal itu semacam formalitas, toh waktu itu dia menanyakannya dengan serius, dan bagi kami yang sama-sama susah serius, momen-momen serius semacam itu akan jadi sesuatu yang akan selalu kami ingat. Lebih penting lagi, formalitas itulah yang akhirnya menyatukan kami. :)

May 12, 2012

Sebuah Awal

Mau nggak kamu jadi pacarku?
Baru beberapa jam yang lalu aku mendengarkan kalimat itu terlontar dari mulutnya, yang kini menjadi kekasihku.

Aku ingat menatap matanya lekat-lekat, kemudian berpaling, terdiam sejenak, hingga dia menginterupsi keheningan. Seolah dia sudah mengetahui jawaban yang akan aku lontarkan. Tak sabaran. Persis sepertiku.

Satu kata yang akan mengakhiri seluruh kelelahan oleh misi pencarian ini. Satu kata lagi, dan aku akan memasuki sebuah awal yang baru.

Tersenyum, aku pun menganggukkan "iya"-ku.

Sebuah pelukan yang mengalirkan kehangatan di sekujur tubuhku mengawali hubungan kami. Petualangan apa yang akan kami hadapi, kuserahkan pada Penguasa semesta.

Titik Akhir?

Tiba-tiba saja hari-hari yang aku jalani tak lagi terasa begitu melelahkan. Tugas-tugas yang terus berdatangan bagai pecutan cambuk membuat aku nyaris lupa bagaimana rasanya pergi nge-date. Yeah, you saw it right. I finally had a date. :))

Dua minggu yang terasa lebih menyenangkan. Obrolan kecil dengan nada suara yang begitu lembut--meski aku tiba-tiba terbahak-bahak--mengenai apa saja yang terlintas di pikiran kami masing-masing. Kejutan-kejutan kecil saat dia menyanyikan lembut lagu-lagu lama yang diputar dari smartphone-ku. Kejutan yang cukup besar ketika dia meladeni obrolan seputar mobil.

Hari ini tepat dua minggu sejak chat pertamanya di bbm, dan kurang dari 12 jam lagi, kami akan membicarakan sesuatu yang lebih serius daripada biasanya. Entah apa yang akan kami bicarakan nanti. Sudah banyak rahasia yang terungkap selama kami menjalani dua minggu penuh petualangan dan godaan dari teman-teman.

Semoga akan ada cukup waktu. Aku hampir sampai ke titik akhir, garis finish-ku. Akankah dia menunggu di sana?